Pesta Demokrasi yang "Sepi"

Oleh Redaksi KABARPALI | 15 Oktober 2023
ilustrasi/net/josa


Pemilu dikenal juga dengan sebutan pesta demokrasi. Hajatan besar milik rakyat untuk menentukan titik awal perubahan bernegara menjadi lebih baik.

 
Layaknya menyambut sebuah pesta. Mestinya semua merasa senang. Riang gembira, menyongsong akan dipertunjukkan beragam pentas, yang menebarkan semangat positif dan penghiburan.
 
Tetapi, menyambut pesta demokrasi 2024, Pemilu serentak pertama sepanjang sejarah Indonesia, rakyat seakan tak menunjukkan ketertarikan dan kegembiraannya lagi.
 
Dari fenomena itu, patutlah dipertanyakan, apakah benar karena rasa pesimisme (putus asa) yang berlebihan, menjadikan rakyat kini jadi dilingkupi apatisme (masa bodoh; acuh) yang berkelanjutan?
 
Dari catatan sejarah, sejak Pemilu pertama 1955 hingga kini, riuh dan gegap gempita rakyat dalam menyongsong Pemilu, pernah terlihat secara nyata pada momentum pesta demokrasi 2004. Kala itu, secara psikologis, tumbangnya rezim orba, dan merebaknya harapan reformasi yang memupuk antusiasme demokrasi, sontak menebarkan harapan baru.
 
Rakyat bersukacita. Bagai ayam yang dikeluarkan dari kandangnya, atau bak kambing ternak yang dilepas tali gembala. Dilibatkan secara langsung untuk memilih pemimpinnya, demokrasi yang disebut-sebut sebagai identitas bangsa selama ini, seakan nyata dan bukan lagi sekedar mimpi indah.
 
Tetapi, kenapa sekarang rakyat tiba-tiba acuh tak acuh dan meredup semangatnya? 
 
Apakah karena kebanyakan para pemimpin kita nyaris semua tak lagi bisa dipercaya. Apakah para politisi tak lagi mempertunjukkan pentas yang menebarkan semangat positif dan penghiburan. Apakah karena tagline, motto, atau slogan institusi penyelenggara pemilu, dianggap hanya kamuflase program untuk menyerap anggaran yang disebut terbesar sepanjang sejarah Pemilu di negeri ini, semata?
 
Politik kita sedang tidak baik-baik saja?
 
Merenungkan prihal ini, Saya teringat salah satu pengusaha nasional -- pemilik Trans grup -- Chairul Tanjung, pernah mengatakan bahwa "politik itu lebih dekat kepada neraka!". Politik yang sedianya adalah suci, telah terkontaminasi dan menjadi tak lagi bersih.
 
Maka, nyaris selalu terjadi, bila orang baik masuk ke ranah politik, ia berpotensi berubah menjadi orang jahat. Karena sulit sekali ditemukan, orang jahat yang masuk politik, justru bertransformasi menjadi orang baik.
 
Penyebabnya, karena sistem politik kita telah menjadi seperti benang kusut. Sulit sekali diurai. Konflik kepentingan telah menyandera niat suci jadi tak bisa lagi bersih.
 
Matrialistiknya politik di Indonesia telah membuat produk demokrasi seperti komoditas dagangan. Nuansa transaksional sudah bukan rahasia lagi. Mahar dukungan partai, jual beli suara pemilih, dramatisir hukum politik, semua demi merebut atau mempertahankan kekuasaan.
 
Oleh karena itu, bisa jadi sistem politik jahat inilah yang menjadi musabab meredupnya semangat rakyat untuk berpesta. Mereka seakan hanya nyaman di belakang panggung. Sembari menyeruput minuman dan mengunyah cemilan. Tak peduli, siapa yang akan tampil dan apa yang akan ditampilkan. Toh, pertunjukkan itu tak lagi menarik hati.
 
Meski demikian, semangat optimisme haruslah terus digaungkan dengan keras dan berkesinambungan. Kegembiraan itu haruslah dibakar hingga menyala-nyala.
 
Meski agak naif memang. Tetapi, sebuah pesta haruslah selalu meriah.????
____________
 
J. Sadewo (penonton pesta)
Pendopo - PALI | Kamis, 12/10/2023 | pukul 02.35 WIB.

BERITA LAINNYA

101741 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

78716 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39143 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25437 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23310 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

Pemilu dikenal juga dengan sebutan pesta demokrasi. Hajatan besar milik rakyat untuk menentukan titik awal perubahan bernegara menjadi lebih baik.

 
Layaknya menyambut sebuah pesta. Mestinya semua merasa senang. Riang gembira, menyongsong akan dipertunjukkan beragam pentas, yang menebarkan semangat positif dan penghiburan.
 
Tetapi, menyambut pesta demokrasi 2024, Pemilu serentak pertama sepanjang sejarah Indonesia, rakyat seakan tak menunjukkan ketertarikan dan kegembiraannya lagi.
 
Dari fenomena itu, patutlah dipertanyakan, apakah benar karena rasa pesimisme (putus asa) yang berlebihan, menjadikan rakyat kini jadi dilingkupi apatisme (masa bodoh; acuh) yang berkelanjutan?
 
Dari catatan sejarah, sejak Pemilu pertama 1955 hingga kini, riuh dan gegap gempita rakyat dalam menyongsong Pemilu, pernah terlihat secara nyata pada momentum pesta demokrasi 2004. Kala itu, secara psikologis, tumbangnya rezim orba, dan merebaknya harapan reformasi yang memupuk antusiasme demokrasi, sontak menebarkan harapan baru.
 
Rakyat bersukacita. Bagai ayam yang dikeluarkan dari kandangnya, atau bak kambing ternak yang dilepas tali gembala. Dilibatkan secara langsung untuk memilih pemimpinnya, demokrasi yang disebut-sebut sebagai identitas bangsa selama ini, seakan nyata dan bukan lagi sekedar mimpi indah.
 
Tetapi, kenapa sekarang rakyat tiba-tiba acuh tak acuh dan meredup semangatnya? 
 
Apakah karena kebanyakan para pemimpin kita nyaris semua tak lagi bisa dipercaya. Apakah para politisi tak lagi mempertunjukkan pentas yang menebarkan semangat positif dan penghiburan. Apakah karena tagline, motto, atau slogan institusi penyelenggara pemilu, dianggap hanya kamuflase program untuk menyerap anggaran yang disebut terbesar sepanjang sejarah Pemilu di negeri ini, semata?
 
Politik kita sedang tidak baik-baik saja?
 
Merenungkan prihal ini, Saya teringat salah satu pengusaha nasional -- pemilik Trans grup -- Chairul Tanjung, pernah mengatakan bahwa "politik itu lebih dekat kepada neraka!". Politik yang sedianya adalah suci, telah terkontaminasi dan menjadi tak lagi bersih.
 
Maka, nyaris selalu terjadi, bila orang baik masuk ke ranah politik, ia berpotensi berubah menjadi orang jahat. Karena sulit sekali ditemukan, orang jahat yang masuk politik, justru bertransformasi menjadi orang baik.
 
Penyebabnya, karena sistem politik kita telah menjadi seperti benang kusut. Sulit sekali diurai. Konflik kepentingan telah menyandera niat suci jadi tak bisa lagi bersih.
 
Matrialistiknya politik di Indonesia telah membuat produk demokrasi seperti komoditas dagangan. Nuansa transaksional sudah bukan rahasia lagi. Mahar dukungan partai, jual beli suara pemilih, dramatisir hukum politik, semua demi merebut atau mempertahankan kekuasaan.
 
Oleh karena itu, bisa jadi sistem politik jahat inilah yang menjadi musabab meredupnya semangat rakyat untuk berpesta. Mereka seakan hanya nyaman di belakang panggung. Sembari menyeruput minuman dan mengunyah cemilan. Tak peduli, siapa yang akan tampil dan apa yang akan ditampilkan. Toh, pertunjukkan itu tak lagi menarik hati.
 
Meski demikian, semangat optimisme haruslah terus digaungkan dengan keras dan berkesinambungan. Kegembiraan itu haruslah dibakar hingga menyala-nyala.
 
Meski agak naif memang. Tetapi, sebuah pesta haruslah selalu meriah.????
____________
 
J. Sadewo (penonton pesta)
Pendopo - PALI | Kamis, 12/10/2023 | pukul 02.35 WIB.

BERITA TERKAIT

PDAM Rusak, Warga Talang Ubi Berebut Beli Air Bersih

03 Mei 2026 201

PALI [kabarpali.com] - Terhentinya suplai air bersih dari Perusahaan Daerah Air [...]

Marak Calo Klaim BPJS Ketenagakerjaan, Warga PALI dan Sekitarnya Resah

24 April 2026 244

Prabumulih [kabarpali.com] - Masyarakat di wilayah Kabupaten PALI, Muara Enim, [...]

Bazar UMKM Meriahkan HUT PALI ke-13, Warga Diajak Dukung Produk Lokal

20 April 2026 225

PALI [kabarpi.com] – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) [...]

close button