Tangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun
DI SEBUAH sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, aroma kedelai yang biasanya menjadi penanda pagi kini seolah kehilangan daya tariknya. Tempe—makanan rakyat yang selama ini menjadi kebanggaan meja makan masyarakat PALI—mendadak berubah wujud di mata publik. Bukan lagi sebagai sumber gizi, tapi jadi bayangan racun yang menakutkan.
Sebut saja Satiman (nama samaran), seorang pembuat sekaligus penjual tempe di PALI, menundukkan kepala saat ditemui. Di balik wajah legamnya yang lelah, mata itu menyimpan kesedihan mendalam.
“Tempe itu sudah saya buat sejak puluhan tahun. Dari situ saya hidupkan anak istri. Tapi sekarang orang-orang takut. Jualan saya banyak yang dikembalikan, yang biasa beli tiap hari sekarang lewat saja,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah hiruk pikuk pasar yang mendadak sunyi di lapaknya.
Keresahan itu bermula dari kabar yang beredar luas: pada awal Mei 2025, sebanyak 173 siswa dari jenjang PAUD hingga SMA di PALI mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu saat itu terdiri dari nasi putih, tumis jagung siam, tempe goreng, dan ikan tongkol suwir . Awalnya, ikan tongkol diduga sebagai penyebab utama. Namun, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa tempe dan air yang digunakan dalam pengolahan makanan mengandung bakteri berbahaya, yang diduga menjadi penyebab keracunan
Bagi Satiman dan rekan-rekannya, kabar itu bak petir di siang bolong. Sebelumnya, harapan mereka sempat hidup ketika isu menyalahkan ikan tongkol, dan tempe dianggap aman. Tapi kini, tempe justru menjadi kambing hitam.
“Dulu waktu dibilang tongkol busuk, saya masih lega. Tapi sekarang? Tempe yang dibilang beracun. Hati saya hancur,” tutur Satiman sambil menatap keranjang tempe dagangannya yang masih utuh sejak pagi.
Tempe selama ini dikenal sebagai makanan kaya protein, digemari berbagai kalangan karena murah dan menyehatkan. Di banyak rumah tangga PALI, tempe adalah lauk sehari-hari. Bukan hanya karena rasanya, tapi juga karena warisan turun-temurun yang melekat pada budaya makan masyarakat lokal.
Kini, makanan itu berpotensi dijauhi. Di warung makan, menu tempe bisa saja dihapuskan. Di sekolah, orang tua siswa meminta agar tempe tak disajikan lagi. Dampaknya akan terasa langsung bagi para pembuat dan pedagang kecil.
“Biasanya saya bisa habis 40 papan tempe dalam sehari. Sekarang mau 10 saja susah,” ujar Suryani, penjual sayur keliling yang juga menjajakan tempe buatan lokal.
Bagi para pelaku usaha tempe, ini bukan sekadar bisnis. Ini tentang harga diri, tentang tradisi, tentang bertahan hidup.
“Kalau tempe tak laku, kami mau makan apa? Anak saya masih sekolah. Istri saya bantu bungkus tempe tiap malam. Sekarang kami bingung mau mulai dari mana lagi,” kata Satiman, menggigit bibir, menahan emosi.
Lebih dari 20 keluarga di kecamatan Talang Ubi dan sekitarnya yang bergantung pada produksi tempe ikut merasakan dampaknya. Satu kabar dari hasil lab, mengubah hidup mereka dalam sekejap.
Para pembuat tempe kini berharap ada penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang. Mereka tak ingin tempe dijadikan kambing hitam tanpa penelusuran menyeluruh. Mereka menuntut kejelasan: apakah benar tempe yang beredar di pasar terkontaminasi racun? Atau adakah faktor lain yang harus diungkap?
“Saya siap diuji. Saya yakin tempe saya bersih. Jangan karena satu kejadian, semua kami disamaratakan,” ujar Satiman, penuh harap.
Hari-hari ini, Satiman dan rekan-rekannya hanya bisa berharap: semoga kepercayaan masyarakat terhadap tempe bisa pulih. Mereka tahu, butuh waktu. Tapi mereka tak punya banyak pilihan.
Di lapak sederhana itu, tempe tetap disusun rapi. Meski pembeli mulai jarang, Satiman tetap datang tiap pagi. Baginya, ini bukan soal jualan semata. Ini tentang mempertahankan jati diri.
“Kalau bukan kami yang jaga tempe, siapa lagi?” katanya lirih.
Dan tempe pun menunggu. Di tengah sunyi, ia tetap hadir. Bukan sebagai racun, tapi sebagai saksi bisu tentang sebuah harapan yang nyaris runtuh—dan perjuangan yang belum usai.[josa]










