Sektor Pariwisata PALI Masih dikelola Setengah Hati?

23 Agustus 2020 Comments | PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR , CATATAN JOKO SADEWO, OPINI, Headline | Oleh Redaksi KABARPALI


Opini : J. Sadewo*)

 

Akhir-akhir ini, perhatian kita sempat dialihkan pada suatu tempat wisata menarik di Kecamatan Lembak Kabupaten Muara Enim. Namanya Danau Shuji.

Ya, momentum liburan pasca stay at home akibat kekhawatiran akan wabah Corona, dilampiaskan masyarakat, terutama di Provinsi Sumatera Selatan, dengan mendatangi danau yang bisa dijangkau dengan perjalanan 90 menit dari Kota Palembang itu.

Satu pekan terakhir (di pertengahan Agustus 2020), setidaknya ribuan orang tercatat mengunjungi Danau Shuji. Ratusan diprediksi berasal dari Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Postingan di media sosial pun diwarnai dengan beragam pose netizen, sedang bergaya di danau itu. Pria, wanita, anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia.

Viralnya Danau Shuji pun menggelitik penulis untuk sekedar mencurahkan buah fikir, melalui tulisan sederhana ini. Benang merahnya, destinasi wisata apa yang bisa PALI banggakan untuk menggaet kunjungan ke PALI. Setidaknya bisa disejajarkan dengan pesona Danau Shuji.

Danau Shuji merupakan danau alami yang berada di Desa Lembak Kecamatan Lembak. Asal kata Shuji diambil dari nama seorang jenderal Jepang yang pernah bermukim di desa itu, pada zaman penjajahan dahulu.

Secara perlahan, sejak sekitar satu tahun lalu, puluhan pemuda setempat dengan dikoordinatori oleh Bob Permana, mencoba mengelolah bekas markas dapur umum tentara Jepang itu, sehingga bisa menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Mereka pun membangun beberapa gazebo di bantaran danau, dengan material kayu serta beratap daun. Menyediakan perahu, ban dan bebek-bebekan sebagai alat transportasi yang bisa dipakai pengunjung menyusuri danau dan menikmati keindahan alam sekitar.

Tak berhenti di situ. Strategi marketing pun diformulasikan untuk mempromosikan Danau Shuji. Melalui media sosial, foto-foto danau Shuji beragam angle diposting lengkap dengan caption menarik, untuk menjangkau calon wisatawan. Para awak media juga digoda untuk menulisnya.

Hasilnya, danau itu viral. Semua orang menjadi penasaran untuk melihat langsung. Keuntungan pun berhasil dikantongi. Jika di awal danau di buka untuk kunjungan umum, pengelola hanya mengutip uang parkir Rp5 ribu per kendaraan, kini selain itu, pengunjung juga harus membayar karcis masuk Rp5 ribu per orang.

Dua jempol untuk para pemuda itu, berani dan kreatif!. Kini, Pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten (Disparekraf) Muara Enim serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumatera Selatan, juga telah berkomitmen untuk turun tangan, mengembangkan destinasi wisata baru di Bumi Serasan Sekundang itu.

Berkaca dari perjuangan para pemuda, Bob Permana dan kawan-kawan, dalam menggali potensi wisata di daerahnya,  warga Kabupaten PALI semestinya juga bisa melakukan hal yang sama. Jika kemudian Desa Lembak menjadi dikenal seantero negeri. Menjadi magnet bagi pengunjung untuk ke sana, serta meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Artinya ini adalah peluang yang profitable!

Lalu apa yang menjadi hambatan kita, dalam mengelola potensi wisata secara serius. Sehingga berhasil seperti objek wisata di banyak tempat?. Mungkinkah hanya kurang keberanian saja, atau karena pemerintah masih setengah hati, dalam memberi perhatian dan campur tangannya?

Di Kabupaten PALI, terdapat Candi Bumi Ayu. Situs percandian ini merupakan terbesar di pulau Sumatera. Saat ini Candi Bumi Ayu yang berada di Desa Bumi Ayu Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, berada di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

Jika Anda ke sana, selain hari Minggu, mungkin hanya akan melihat para pengurus candi yang sedang bekerja, atau beberapa remaja yang duduk-duduk sambil bermain gadget. Sedangkan di hari Minggu atau libur biasanya ada warga lokal di sekitar yang datang sekedar untuk berselfi, dan para ABG berpasang-pasangan yang sedang kasmaran.

Konstruksi candi yang terbuat dari batu bata (tanah merah) dan bentuknya yang mayoritas tak utuh lagi, bisa jadi merupakan penyebab kurang menarik perhatian para wisatawan. Selain nilai historis dan nuansa religius, tak banyak yang bisa ‘dijual’ dari objek wisata andalan Bumi Serepat Serasan ini.

Dari bincang-bincang penulis dengan petugas yang mengurus candi, serta tokoh masyarakat setempat, harapan mereka, pemerintah bisa menambahkan bermacam aksesoris permainan lain, agar candi Bumi Ayu bisa menyedot kunjungan wisatawan.

“Kalau konstruksi Candi Bumi Ayu kan tidak boleh dirubah atau diutak atik. Nah, mungkin untuk menjadi daya tarik pengunjung, pemerintah bisa menambah berbagai alat permainan lain di sekitar komplek percandian,” cetus Joko, salah satu pengurus candi, beberapa waktu silam.

Jika pengunjung sudah banyak, tambah warga Desa Raja Kecamatan Tanah Abang itu, penduduk sekitar bisa berjualan makanan dan souvenir, yang akan meningkatkan pendapatan mereka.

Selain, penambahan bangunan Museum dan kantor pengelolah, hingga kini belum ada inovasi untuk meningkatkan jumlah kunjungi ke candi yang pertama kali ditemukan oleh EP Tombrink, dalam kondisi terkubur tanah dan rusak pada tahun 1864 itu.

Tak hanya Candi Bumi Ayu, di PALI juga terdapat lokasi wisata berupa Lapangan Golf milik pertamina di Kecamatan Talang Ubi, Danau Pring Jaya di Desa Raja Jaya Kecamatan Penukal, Danau Jodoh di Tanjung Kurung Abab, Danau Air Itam, Goa Belanda di Talang Akar, Masjid Al Kautsar Abdul Jalil di Simpang Tais, Danau Batanghari Siku di Karta Dewa dan Taman Bunga Lipali di Pengabuan.

Namun demikian, dari semua objek wisata tersebut, hingga kini tak ada yang dikelola secara profesional. Dari beberapa destinasi wisata, biasanya hanya akan menggeliat beberapa saat. Kemudian senyap dan terlelap. Hal itu juga diperparah, dengan tak adanya upaya promosi yang berkesinambungan.

Sebut saja, kolam renang (waterfun) yang berada di Desa Simpang Tais Kecamatan Talang Ubi. Sempat populer beberapa saat, kini terancam tak ada pengunjung lagi.  Begitu juga Waterdam di Raja Jaya, Danau Jodoh Tanjung Kurung, dan terakhir Taman Bunga Lipali di Desa Pengabuan Kecamatan Abab.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten PALI, Effendi, pernah menyebut bahwa ada 12 destinasi wisata di kabupaten yang telah berusia 7 tahun ini, masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Kewisataan 2018-2028.

Effendi mengatakan, dengan adanya Rencana Induk Pembangunan Kewisataan itu, diharapkan PALI bisa menjadi target wisata di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Ke-12 objek wisata itu tersebar di lima kecamatan di PALI.

“Kami berharap setelah obyek wisata di PALI dibangun, akan bisa menambah pendapatan asli daerah atau PAD bagi Kabupaten PALI,” tambah Effendi, seperti dikutip dari sumselsatu.com.

Sayangnya, pernyataan Kepala Disbudpar itu, hingga kini belum menunjukan progresnya. Jangankan menggali potensi wisata baru, objek wisata yang sedianya bisa dimaksimalkan pengelolaannya pun terancam mati suri.

Nampaknya, saat ini warga PALI memang harus berpuas diri dahulu dengan menjadi pelancong yang datang menikmati liburan ke daerah orang. Karena potensi wisata di sini, masih dikelolah setengah hati.[*)Penulis adalah traveller | Pemimpin Redaksi PALI POST-www.kabarpali.com]

BERITA LAINNYA

15597 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

15214 KaliFenomena Apa? Puluhan Gajah Liar di PALI Mulai Turun ke Jalan

PALI [kabarpali.com] - Ulah sekumpulan satwa bertubuh besar mendadak [...]

15 Desember 2019

14320 KaliPura-pura Minta Kerok, Mertua Coba Perkosa Menantunya

Talang Ubi [kabarpali.com] - Tak patut sekali ulah Irsanto bin Zainal (39) [...]

30 November 2018

14016 KaliTak Hanya Bupati Muara Enim, KPK Juga Tangkap Pengusaha & Kepala Dinas PUBM

SUMSEL - Bupati Muara Enim, H, Ahmad Yani,  diduga [...]

03 September 2019

12301 KaliPolisi Amankan Sabu Senilai 2 Miliar di Air Itam, Bandarnya Berhasil Kabur

Penukal [kabarpali.com] - Warga Bumi Serepat Serasan mendadak gempar. Polisi [...]

20 Maret 2018

Opini : J. Sadewo*)

 

Akhir-akhir ini, perhatian kita sempat dialihkan pada suatu tempat wisata menarik di Kecamatan Lembak Kabupaten Muara Enim. Namanya Danau Shuji.

Ya, momentum liburan pasca stay at home akibat kekhawatiran akan wabah Corona, dilampiaskan masyarakat, terutama di Provinsi Sumatera Selatan, dengan mendatangi danau yang bisa dijangkau dengan perjalanan 90 menit dari Kota Palembang itu.

Satu pekan terakhir (di pertengahan Agustus 2020), setidaknya ribuan orang tercatat mengunjungi Danau Shuji. Ratusan diprediksi berasal dari Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Postingan di media sosial pun diwarnai dengan beragam pose netizen, sedang bergaya di danau itu. Pria, wanita, anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia.

Viralnya Danau Shuji pun menggelitik penulis untuk sekedar mencurahkan buah fikir, melalui tulisan sederhana ini. Benang merahnya, destinasi wisata apa yang bisa PALI banggakan untuk menggaet kunjungan ke PALI. Setidaknya bisa disejajarkan dengan pesona Danau Shuji.

Danau Shuji merupakan danau alami yang berada di Desa Lembak Kecamatan Lembak. Asal kata Shuji diambil dari nama seorang jenderal Jepang yang pernah bermukim di desa itu, pada zaman penjajahan dahulu.

Secara perlahan, sejak sekitar satu tahun lalu, puluhan pemuda setempat dengan dikoordinatori oleh Bob Permana, mencoba mengelolah bekas markas dapur umum tentara Jepang itu, sehingga bisa menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Mereka pun membangun beberapa gazebo di bantaran danau, dengan material kayu serta beratap daun. Menyediakan perahu, ban dan bebek-bebekan sebagai alat transportasi yang bisa dipakai pengunjung menyusuri danau dan menikmati keindahan alam sekitar.

Tak berhenti di situ. Strategi marketing pun diformulasikan untuk mempromosikan Danau Shuji. Melalui media sosial, foto-foto danau Shuji beragam angle diposting lengkap dengan caption menarik, untuk menjangkau calon wisatawan. Para awak media juga digoda untuk menulisnya.

Hasilnya, danau itu viral. Semua orang menjadi penasaran untuk melihat langsung. Keuntungan pun berhasil dikantongi. Jika di awal danau di buka untuk kunjungan umum, pengelola hanya mengutip uang parkir Rp5 ribu per kendaraan, kini selain itu, pengunjung juga harus membayar karcis masuk Rp5 ribu per orang.

Dua jempol untuk para pemuda itu, berani dan kreatif!. Kini, Pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten (Disparekraf) Muara Enim serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumatera Selatan, juga telah berkomitmen untuk turun tangan, mengembangkan destinasi wisata baru di Bumi Serasan Sekundang itu.

Berkaca dari perjuangan para pemuda, Bob Permana dan kawan-kawan, dalam menggali potensi wisata di daerahnya,  warga Kabupaten PALI semestinya juga bisa melakukan hal yang sama. Jika kemudian Desa Lembak menjadi dikenal seantero negeri. Menjadi magnet bagi pengunjung untuk ke sana, serta meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Artinya ini adalah peluang yang profitable!

Lalu apa yang menjadi hambatan kita, dalam mengelola potensi wisata secara serius. Sehingga berhasil seperti objek wisata di banyak tempat?. Mungkinkah hanya kurang keberanian saja, atau karena pemerintah masih setengah hati, dalam memberi perhatian dan campur tangannya?

Di Kabupaten PALI, terdapat Candi Bumi Ayu. Situs percandian ini merupakan terbesar di pulau Sumatera. Saat ini Candi Bumi Ayu yang berada di Desa Bumi Ayu Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, berada di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

Jika Anda ke sana, selain hari Minggu, mungkin hanya akan melihat para pengurus candi yang sedang bekerja, atau beberapa remaja yang duduk-duduk sambil bermain gadget. Sedangkan di hari Minggu atau libur biasanya ada warga lokal di sekitar yang datang sekedar untuk berselfi, dan para ABG berpasang-pasangan yang sedang kasmaran.

Konstruksi candi yang terbuat dari batu bata (tanah merah) dan bentuknya yang mayoritas tak utuh lagi, bisa jadi merupakan penyebab kurang menarik perhatian para wisatawan. Selain nilai historis dan nuansa religius, tak banyak yang bisa ‘dijual’ dari objek wisata andalan Bumi Serepat Serasan ini.

Dari bincang-bincang penulis dengan petugas yang mengurus candi, serta tokoh masyarakat setempat, harapan mereka, pemerintah bisa menambahkan bermacam aksesoris permainan lain, agar candi Bumi Ayu bisa menyedot kunjungan wisatawan.

“Kalau konstruksi Candi Bumi Ayu kan tidak boleh dirubah atau diutak atik. Nah, mungkin untuk menjadi daya tarik pengunjung, pemerintah bisa menambah berbagai alat permainan lain di sekitar komplek percandian,” cetus Joko, salah satu pengurus candi, beberapa waktu silam.

Jika pengunjung sudah banyak, tambah warga Desa Raja Kecamatan Tanah Abang itu, penduduk sekitar bisa berjualan makanan dan souvenir, yang akan meningkatkan pendapatan mereka.

Selain, penambahan bangunan Museum dan kantor pengelolah, hingga kini belum ada inovasi untuk meningkatkan jumlah kunjungi ke candi yang pertama kali ditemukan oleh EP Tombrink, dalam kondisi terkubur tanah dan rusak pada tahun 1864 itu.

Tak hanya Candi Bumi Ayu, di PALI juga terdapat lokasi wisata berupa Lapangan Golf milik pertamina di Kecamatan Talang Ubi, Danau Pring Jaya di Desa Raja Jaya Kecamatan Penukal, Danau Jodoh di Tanjung Kurung Abab, Danau Air Itam, Goa Belanda di Talang Akar, Masjid Al Kautsar Abdul Jalil di Simpang Tais, Danau Batanghari Siku di Karta Dewa dan Taman Bunga Lipali di Pengabuan.

Namun demikian, dari semua objek wisata tersebut, hingga kini tak ada yang dikelola secara profesional. Dari beberapa destinasi wisata, biasanya hanya akan menggeliat beberapa saat. Kemudian senyap dan terlelap. Hal itu juga diperparah, dengan tak adanya upaya promosi yang berkesinambungan.

Sebut saja, kolam renang (waterfun) yang berada di Desa Simpang Tais Kecamatan Talang Ubi. Sempat populer beberapa saat, kini terancam tak ada pengunjung lagi.  Begitu juga Waterdam di Raja Jaya, Danau Jodoh Tanjung Kurung, dan terakhir Taman Bunga Lipali di Desa Pengabuan Kecamatan Abab.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten PALI, Effendi, pernah menyebut bahwa ada 12 destinasi wisata di kabupaten yang telah berusia 7 tahun ini, masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Kewisataan 2018-2028.

Effendi mengatakan, dengan adanya Rencana Induk Pembangunan Kewisataan itu, diharapkan PALI bisa menjadi target wisata di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Ke-12 objek wisata itu tersebar di lima kecamatan di PALI.

“Kami berharap setelah obyek wisata di PALI dibangun, akan bisa menambah pendapatan asli daerah atau PAD bagi Kabupaten PALI,” tambah Effendi, seperti dikutip dari sumselsatu.com.

Sayangnya, pernyataan Kepala Disbudpar itu, hingga kini belum menunjukan progresnya. Jangankan menggali potensi wisata baru, objek wisata yang sedianya bisa dimaksimalkan pengelolaannya pun terancam mati suri.

Nampaknya, saat ini warga PALI memang harus berpuas diri dahulu dengan menjadi pelancong yang datang menikmati liburan ke daerah orang. Karena potensi wisata di sini, masih dikelolah setengah hati.[*)Penulis adalah traveller | Pemimpin Redaksi PALI POST-www.kabarpali.com]

BERITA TERKAIT

Penyelesaian Konflik Lahan Perkebunan Kelapa Sawit

25 Agustus 2020 340

Penulis : Albar Subari, SH.,SU dan Zainul Murzadi,SH.,MH*)   Dalam [...]

Marga di Masyarakat Adat Indonesia

19 Agustus 2020 364

Penulis : Zainul Marzadi,S.H,.M.H dan Albar S.Subari, [...]

Pertunjukan Politik Jelang Pilkada PALI 2020 (part 2)

16 Agustus 2020 1676

Opini : J. Sadewo, S.H*) DINAMIKA perpolitikan di Kabupaten Penukal Abab [...]

close button