Penurunan Produksi Karet di PALI Memprihatinkan: Petani Beralih Tanam Sawit
PALI [kabarpali.com] – Produksi karet di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kini mengalami penurunan tajam dibanding masa kejayaannya beberapa tahun lalu. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk nasib petani karet jika tidak segera ada perhatian serius dari pemerintah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Herman, salah satu pengurus koperasi Anugerah Mulia di PALI yang selama ini memfasilitasi penjualan hasil karet petani ke sejumlah pabrik di Palembang dan Lampung. Menurutnya, produksi karet di daerah tersebut kini sudah jauh menurun dibanding sekitar tahun 2007 hingga 2017.
“Dulu, sekitar tahun 2017 ke bawah, produksi karet PALI bisa mencapai sekitar 1.500 ton per bulan. Sekarang tinggal sekitar 600 ton saja,” ujar Herman pada postingan di akun medsosnya.
Herman menjelaskan, turunnya produksi karet disebabkan oleh anjloknya harga jual yang tidak lagi sebanding dengan biaya hidup petani. Saat ini, katanya, harga karet di tingkat petani bahkan hanya mampu membeli satu kilogram beras. Kondisi tersebut membuat banyak petani memilih mengalihfungsikan lahannya menjadi kebun kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan.
“Bagi kami sebagai pengurus koperasi yang menampung hasil petani, kondisi ini sangat terasa. Semoga ke depan harga karet bisa meningkat, supaya petani tidak terus meninggalkan karet,” harapnya.
Tren harga karet alam secara nasional memang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data global, harga karet alam dunia diperkirakan akan stagnan di bawah 2 dolar AS per kilogram.
Sebagai perbandingan, di tingkat petani di Sumatera Utara, harga karet sempat berada di kisaran Rp11.000–Rp11.400 per kilogram, sedangkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di beberapa provinsi pada awal 2025 mencapai lebih dari Rp3.000 per kilogram untuk tanaman berusia produktif.
Perbedaan harga tersebut membuat sawit menjadi alternatif yang lebih menguntungkan, sekaligus mempercepat peralihan lahan dari karet ke sawit di berbagai daerah, termasuk PALI.
Petani karet di PALI sangat berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah, baik melalui penyesuaian harga, pemberian subsidi, maupun program revitalisasi perkebunan.
“Kalau tidak ada kebijakan yang berpihak pada petani, karet di PALI bisa semakin berkurang dan hilang perlahan,” katanya.
Perlu juga didorong adanya diversifikasi dan hilirisasi produk karet lokal, agar nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh petani, bukan hanya oleh pabrikan. Program seperti peremajaan tanaman, penyuluhan, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas juga dinilai penting untuk membangkitkan kembali semangat petani karet.
Penurunan produksi dari 1.500 ton menjadi 600 ton per bulan menjadi sinyal serius bahwa sektor perkaretan di PALI tengah berada dalam kondisi kritis. Tanpa adanya langkah strategis, bukan tidak mungkin kabupaten yang dulu dikenal sebagai salah satu penghasil karet utama di Sumatera Selatan ini akan kehilangan identitasnya.
Dengan tren harga yang stagnan dan peralihan lahan yang terus meluas, intervensi dari pemerintah pusat maupun daerah menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan komoditas karet di Bumi Serepat Serasan.[red]










