PALI Usia 12 Tahun: Ujian Kepemimpinan dan Tantangan Zaman Baru
PALI [kabarpali.com] - Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kini menginjak usia ke-12 tahun. Sebuah usia muda dalam ranah pemerintahan, namun cukup matang untuk mengevaluasi pencapaian dan bersiap menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Seiring bertambahnya usia, bertambah pula harapan masyarakat — terutama dalam hal percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.
Membandingkan dengan Bijak: Jangan Apel disandingkan dengan Jeruk
Menurut Kuyung Rizal, S.S, Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten PALI, evaluasi terhadap pembangunan di PALI harus dilakukan secara adil. “Tentu kalau mau dibandingkan dengan kabupaten yang sudah jauh lebih tua, kemajuan PALI belum seberapa. Tapi perbandingan harus apple to apple, bandingkan dengan kabupaten-kabupaten yang seumuran, maka akan nampak perubahan besar yang telah terjadi.”
Dan menurutnya, PALI telah menunjukkan geliat pembangunan yang positif. Sejak dimekarkan pada 22 April 2013, berbagai sektor telah mulai dibenahi — mulai dari infrastruktur jalan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga peningkatan ekonomi masyarakat. Banyak dari ini tak lepas dari “tangan dingin” kepemimpinan sebelumnya.
“Kita patut mengapresiasi kerja keras Pak Heri Amalindo yang memimpin dengan totalitas. Perubahan yang kita lihat sekarang tak lepas dari pondasi yang ia letakkan,” lanjut Kuyung Rizal.
Kepemimpinan Baru, Tantangan Baru
Namun kini, babak baru telah dimulai. PALI berada di bawah kepemimpinan yang baru. Tantangannya pun tak lagi sama seperti dulu. Salah satunya adalah efisiensi fiskal yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Ini bukan perkara kecil, sebab sebagian besar sumber pendanaan pembangunan di PALI masih mengandalkan dana transfer pusat.
“APBD kita tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp1,4 triliun. Tapi pertanyaannya, akankah angka ini bertahan? Ataukah justru tergerus karena program efisiensi dari pusat?” ujar Kuyung Rizal. Menurutnya, kondisi ini akan menjadi ujian nyata bagi pemimpin daerah dalam mengelola anggaran secara efektif dan cerdas.
Di sinilah, kata Kuyung Rizal, kecakapan dan kepandaian pemimpin diuji. Tak hanya sekadar menyusun program, tetapi juga menjalankan visi dan misi dengan selaras terhadap arah kebijakan nasional. Kepemimpinan yang mampu mengharmoniskan kebutuhan lokal dan arah pusat adalah kunci agar PALI tak hanya survive, tetapi mampu berkembang di tengah tekanan dan keterbatasan fiskal.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme Kritis
PALI tidak bisa hanya berjalan di tempat. IPM PALI yang masih di angka 68,78, serta angka pengangguran terbuka 4,66%, adalah indikator bahwa perjuangan belum selesai. Meski ekonomi tumbuh, kualitas hidup masyarakat masih perlu ditingkatkan secara lebih merata.
“Momentum ulang tahun ini seharusnya menjadi refleksi, bukan hanya seremonial. Kita ingin pemimpin yang progresif, inovatif, tapi tetap berpihak kepada rakyat kecil,” pungkas mantan legislator Muara Enim, dari Dapil PALI itu.[red]










