Ketika Getah Tak Lagi Menjanjikan, Petani Karet PALI Bertaruh Masa Depan

Oleh Redaksi KABARPALI | 19 Desember 2025


PALI [kabarpali.com] - Pagi merekah perlahan di Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Langit bersih, angin berembus ringan, membawa aroma tanah dan sisa hujan semalam. Di Talang Tumbur, suasana syahdu pecah oleh langkah-langkah warga yang berdatangan.

Pria setengah baya dengan wajah legam terbakar matahari, perempuan-perempuan yang masih mengenakan daster rumah, mengerumuni kepingan getah karet kering. Ada yang diikat tali rafia, ada pula yang dibungkus jaring agar tak berhamburan—hasil sadapan berhari-hari yang pagi itu akan ditentukan nasibnya.

Mereka adalah petani karet yang tergabung dalam Tempat Penimbangan Karet (TPK) Talang Tumbur, satu dari 36 TPK di bawah naungan Koperasi Anugerah Mulia Talang Ubi PALI. Pagi itu, getah-getah kering mereka ditimbang dan dibeli PT SLI, pemenang tender dari Palembang. Angkanya tertera jelas: Rp14.400 per kilogram. Angka yang dulu mungkin disambut senyum, kini lebih sering mengundang helaan napas panjang.

Bagi masyarakat PALI, karet bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan, denyut hidup yang diwariskan turun-temurun. Namun di balik rutinitas menimbang dan menjual itu, tersimpan kegelisahan yang kian mengendap. Karet tak lagi menjanjikan seperti masa silam. Produksi menurun, harga tak sebanding dengan kebutuhan pokok yang terus merangkak naik. Penghasilan yang masuk terasa makin tipis, tak cukup menutup biaya hidup, apalagi perawatan kebun.

Kamis (18/12/2025), sejak pagi hingga sore, media ini membersamai para petani—menyimak cerita mereka sembari mengikuti proses penimbangan hingga lelang bokar di Koperasi Anugerah Mulia. Di sela-sela aktivitas, keluh kesah mengalir tanpa ditahan. Tentang kebun yang kian renta, tentang penyakit yang datang tanpa ampun, tentang harapan yang perlahan menyusut.

Ketua Koperasi Anugerah Mulia, Suherman, mengaku merasakan betul perubahan tajam dinamika karet alam. Dari 320 anggota koperasi—seluruhnya petani karet—getah dikumpulkan rutin setiap tanggal 18.

“Kalau dulu, punya kebun dua hektare bisa panen sampai enam kuintal per bulan. Sekarang paling hanya dua sampai empat kuintal,” katanya lirih. Biaya perawatan yang tak terjangkau membuat kebun terabaikan. Ditambah lagi serangan jamur akar dan gugur daun yang datang berulang, seolah tak lagi mengenal musim.

Harga yang kerap jatuh makin memperberat keadaan. Tak heran, satu per satu petani mulai melirik sawit—tanaman yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Peralihan itu terjadi diam-diam, pelan namun pasti, meninggalkan jejak panjang di kampung-kampung karet.

Keluhan paling getir datang dari seorang petani di Talang Tumbur. Sudah lama ia dan banyak petani lain tak sanggup membeli pupuk. Harganya terlampau mahal, sementara hasil tak menutup ongkos. “Kalau dihitung-hitung, bisa tekor,” ujarnya.

Lebih dari itu, mereka merasa berjalan tanpa peta. “Jamur akar putih dan gugur daun sekarang tak kenal musim. Sampai hari ini kami tak tahu cara mengatasinya. Seharusnya pemerintah hadir memberi solusi,” keluhnya.

Sekretaris Koperasi Anugerah Mulia, H. Mardiyanto, mencatat penurunan produksi yang sangat kentara. Beberapa tahun lalu, koperasinya mampu melelang 1.000 hingga 1.300 ton getah kering per bulan. Kini, angka itu menyusut tajam—maksimal 500 hingga 600 ton.

“Ini bukan sekadar angka. Artinya pendapatan petani turun, daya beli masyarakat ikut anjlok. Kalau dibiarkan, angka kemiskinan bisa naik,” tegas pria sepuh yang puluhan tahun bergelut di dunia niaga karet.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah lebih banyak tercurah pada program cetak sawah dan budidaya jagung—agenda nasional untuk swasembada pangan dan menjadikan PALI sentra jagung. Sementara itu, karet—yang telah lama menghidupi ribuan keluarga—seakan berjalan sendiri, menghadapi penyakit, harga, dan ketidakpastian tanpa pendampingan memadai.

Sebagai bentuk respons atas kegelisahan petani karet tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten PALI, Ahmad Jhoni, SP, MM, menyampaikan bahwa pemerintah daerah tetap memberi perhatian terhadap sektor perkebunan karet, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan banyaknya sektor yang harus ditangani.

Ia menjelaskan, pada tahun 2024, melalui APBD Kabupaten PALI, pemerintah telah mengalokasikan bantuan bibit karet sebanyak 50.000 batang untuk lahan seluas 100 hektare yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Bantuan tersebut disalurkan kepada 10 kelompok tani. Selain itu, melalui APBN, kembali disalurkan 50.000 batang bibit karet untuk 4 kelompok tani di wilayah PALI.

Memasuki tahun 2025, dukungan kembali dilanjutkan. Melalui APBD, pemerintah Kabupaten PALI mengalokasikan 75.000 batang bibit karet yang diperuntukkan bagi 6 kelompok tani. Tak hanya itu, aspirasi dari anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Ibu Dwi Asgianto, SE, juga diwujudkan dalam bentuk bantuan sarana produksi berupa handsprayer dan gerobak sorong untuk menunjang aktivitas petani karet di lapangan.

Ahmad Jhoni menambahkan, pembinaan juga terus dilakukan melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Saat ini terdapat 19 UPPB di Kabupaten PALI yang secara rutin mendapatkan pembinaan berupa penyuluhan dan pelatihan, guna meningkatkan kualitas bokar dan posisi tawar petani. Dari jumlah tersebut, 10 UPPB telah menerima bantuan pupuk organik cair sebagai upaya mendukung perbaikan produksi dan keberlanjutan kebun karet.

“Upaya ini belum sempurna, tapi menjadi langkah pemerintah untuk tetap hadir bersama petani karet. Ke depan, kami berharap sinergi lintas sektor dan dukungan anggaran yang lebih besar dapat memperkuat kembali sektor karet sebagai penopang ekonomi masyarakat PALI,” pungkasnya.

Tanpa bermaksud mengabaikan laporan bantuan pemerintah yang telah digulirkan, apa yang dirasakan para petani karet atas kondisi kongkret di lapangan, patutlah menjadi masukan berharga. Pelan tapi pasti, jika keadaan ini terus berlanjut, pilihan para petani akan makin sempit. Kebun karet berubah menjadi sawit. Anak-anak muda memilih merantau, meninggalkan kampung untuk menjadi buruh industri di kota. Di pagi-pagi cerah Talang Tumbur, di antara kepingan getah yang ditimbang, pertanyaan itu menggantung di udara: akankah karet tetap bertahan, atau tinggal kenangan yang perlahan memudar?[josa]

BERITA LAINNYA

101833 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

78841 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39241 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25606 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23409 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

PALI [kabarpali.com] - Pagi merekah perlahan di Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Langit bersih, angin berembus ringan, membawa aroma tanah dan sisa hujan semalam. Di Talang Tumbur, suasana syahdu pecah oleh langkah-langkah warga yang berdatangan.

Pria setengah baya dengan wajah legam terbakar matahari, perempuan-perempuan yang masih mengenakan daster rumah, mengerumuni kepingan getah karet kering. Ada yang diikat tali rafia, ada pula yang dibungkus jaring agar tak berhamburan—hasil sadapan berhari-hari yang pagi itu akan ditentukan nasibnya.

Mereka adalah petani karet yang tergabung dalam Tempat Penimbangan Karet (TPK) Talang Tumbur, satu dari 36 TPK di bawah naungan Koperasi Anugerah Mulia Talang Ubi PALI. Pagi itu, getah-getah kering mereka ditimbang dan dibeli PT SLI, pemenang tender dari Palembang. Angkanya tertera jelas: Rp14.400 per kilogram. Angka yang dulu mungkin disambut senyum, kini lebih sering mengundang helaan napas panjang.

Bagi masyarakat PALI, karet bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan, denyut hidup yang diwariskan turun-temurun. Namun di balik rutinitas menimbang dan menjual itu, tersimpan kegelisahan yang kian mengendap. Karet tak lagi menjanjikan seperti masa silam. Produksi menurun, harga tak sebanding dengan kebutuhan pokok yang terus merangkak naik. Penghasilan yang masuk terasa makin tipis, tak cukup menutup biaya hidup, apalagi perawatan kebun.

Kamis (18/12/2025), sejak pagi hingga sore, media ini membersamai para petani—menyimak cerita mereka sembari mengikuti proses penimbangan hingga lelang bokar di Koperasi Anugerah Mulia. Di sela-sela aktivitas, keluh kesah mengalir tanpa ditahan. Tentang kebun yang kian renta, tentang penyakit yang datang tanpa ampun, tentang harapan yang perlahan menyusut.

Ketua Koperasi Anugerah Mulia, Suherman, mengaku merasakan betul perubahan tajam dinamika karet alam. Dari 320 anggota koperasi—seluruhnya petani karet—getah dikumpulkan rutin setiap tanggal 18.

“Kalau dulu, punya kebun dua hektare bisa panen sampai enam kuintal per bulan. Sekarang paling hanya dua sampai empat kuintal,” katanya lirih. Biaya perawatan yang tak terjangkau membuat kebun terabaikan. Ditambah lagi serangan jamur akar dan gugur daun yang datang berulang, seolah tak lagi mengenal musim.

Harga yang kerap jatuh makin memperberat keadaan. Tak heran, satu per satu petani mulai melirik sawit—tanaman yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Peralihan itu terjadi diam-diam, pelan namun pasti, meninggalkan jejak panjang di kampung-kampung karet.

Keluhan paling getir datang dari seorang petani di Talang Tumbur. Sudah lama ia dan banyak petani lain tak sanggup membeli pupuk. Harganya terlampau mahal, sementara hasil tak menutup ongkos. “Kalau dihitung-hitung, bisa tekor,” ujarnya.

Lebih dari itu, mereka merasa berjalan tanpa peta. “Jamur akar putih dan gugur daun sekarang tak kenal musim. Sampai hari ini kami tak tahu cara mengatasinya. Seharusnya pemerintah hadir memberi solusi,” keluhnya.

Sekretaris Koperasi Anugerah Mulia, H. Mardiyanto, mencatat penurunan produksi yang sangat kentara. Beberapa tahun lalu, koperasinya mampu melelang 1.000 hingga 1.300 ton getah kering per bulan. Kini, angka itu menyusut tajam—maksimal 500 hingga 600 ton.

“Ini bukan sekadar angka. Artinya pendapatan petani turun, daya beli masyarakat ikut anjlok. Kalau dibiarkan, angka kemiskinan bisa naik,” tegas pria sepuh yang puluhan tahun bergelut di dunia niaga karet.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah lebih banyak tercurah pada program cetak sawah dan budidaya jagung—agenda nasional untuk swasembada pangan dan menjadikan PALI sentra jagung. Sementara itu, karet—yang telah lama menghidupi ribuan keluarga—seakan berjalan sendiri, menghadapi penyakit, harga, dan ketidakpastian tanpa pendampingan memadai.

Sebagai bentuk respons atas kegelisahan petani karet tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten PALI, Ahmad Jhoni, SP, MM, menyampaikan bahwa pemerintah daerah tetap memberi perhatian terhadap sektor perkebunan karet, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan banyaknya sektor yang harus ditangani.

Ia menjelaskan, pada tahun 2024, melalui APBD Kabupaten PALI, pemerintah telah mengalokasikan bantuan bibit karet sebanyak 50.000 batang untuk lahan seluas 100 hektare yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Bantuan tersebut disalurkan kepada 10 kelompok tani. Selain itu, melalui APBN, kembali disalurkan 50.000 batang bibit karet untuk 4 kelompok tani di wilayah PALI.

Memasuki tahun 2025, dukungan kembali dilanjutkan. Melalui APBD, pemerintah Kabupaten PALI mengalokasikan 75.000 batang bibit karet yang diperuntukkan bagi 6 kelompok tani. Tak hanya itu, aspirasi dari anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Ibu Dwi Asgianto, SE, juga diwujudkan dalam bentuk bantuan sarana produksi berupa handsprayer dan gerobak sorong untuk menunjang aktivitas petani karet di lapangan.

Ahmad Jhoni menambahkan, pembinaan juga terus dilakukan melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Saat ini terdapat 19 UPPB di Kabupaten PALI yang secara rutin mendapatkan pembinaan berupa penyuluhan dan pelatihan, guna meningkatkan kualitas bokar dan posisi tawar petani. Dari jumlah tersebut, 10 UPPB telah menerima bantuan pupuk organik cair sebagai upaya mendukung perbaikan produksi dan keberlanjutan kebun karet.

“Upaya ini belum sempurna, tapi menjadi langkah pemerintah untuk tetap hadir bersama petani karet. Ke depan, kami berharap sinergi lintas sektor dan dukungan anggaran yang lebih besar dapat memperkuat kembali sektor karet sebagai penopang ekonomi masyarakat PALI,” pungkasnya.

Tanpa bermaksud mengabaikan laporan bantuan pemerintah yang telah digulirkan, apa yang dirasakan para petani karet atas kondisi kongkret di lapangan, patutlah menjadi masukan berharga. Pelan tapi pasti, jika keadaan ini terus berlanjut, pilihan para petani akan makin sempit. Kebun karet berubah menjadi sawit. Anak-anak muda memilih merantau, meninggalkan kampung untuk menjadi buruh industri di kota. Di pagi-pagi cerah Talang Tumbur, di antara kepingan getah yang ditimbang, pertanyaan itu menggantung di udara: akankah karet tetap bertahan, atau tinggal kenangan yang perlahan memudar?[josa]

BERITA TERKAIT

Daya Beli Masyarakat Menurun, Dinkop UKM PALI Siapkan Terobosan PALI Night Culinary

06 Juni 2026 342

PALI [kabarpali.com] – Di tengah melemahnya daya beli masyarakat akibat [...]

BPS PALI Gelar Forum Konsultasi Publik, Dorong Peningkatan Layanan Statistik

27 Mei 2026 238

PALI [kabarpali.com] — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Penukal Abab [...]

Pererat Sinergi dengan Media, Bupati PALI Kurbankan Sapi untuk Insan Pers

27 Mei 2026 234

PALI [kabarpali.com] - Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Asgianto, [...]

close button