Gema Aksi di Bumi Serepat Serasan: Pemuda PALI Gedor Kantor Dewan
PALI [kabarpali.com] – Suasana Senin pagi (10 Juni 2025) di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir tampak biasa saja. Namun suasana berubah panas saat puluhan pemuda dengan suara lantang dan semangat menyala mengguncang halaman kantor DPRD PALI.
Mereka datang bukan sekadar untuk menyuarakan keluh kesah—mereka datang membawa harapan rakyat yang selama ini terbungkam oleh tumpukan anggaran dan kebijakan yang dinilai tak menyentuh akar persoalan.
Mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Pemuda Peduli PALI (AP3), massa aksi membawa sejumlah tuntutan yang mencerminkan denyut kegelisahan masyarakat. Mereka tidak hanya berorasi, tetapi menguliti satu per satu kebijakan yang dianggap menyimpang dari semangat efisiensi dan keadilan sosial.
“DPRD harus patuh terhadap Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, jangan hamburkan uang rakyat untuk kunjungan kerja ke luar daerah yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan!” teriak salah satu orator.
Di antara pekik dan spanduk, tuntutan-tuntutan tajam menggema:
- Tolak APBD Perubahan jika tidak berpihak pada rakyat.
- Bentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menyelidiki penggunaan anggaran Pemda PALI.
- Gunakan hak interpelasi terhadap pengadaan mobil dinas yang nilainya dianggap "tak masuk akal".
- Dorong Perda Perlindungan Pekerja Lokal, agar minimal 80 persen tenaga kerja di PALI berasal dari warga lokal.
- Tuntaskan kasus keracunan massal yang mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan meminta pertanggungjawaban pihak yang terlibat.
Gerakan yang dimulai dari gedung DPRD itu tak berhenti di sana. Aksi berlanjut ke Kantor Bupati PALI di Jalan Merdeka KM 10, di mana mereka kembali menggelar orasi di bawah pengawasan ketat aparat kepolisian dan Satpol PP.
Puncak aksi mencair saat Wakil Bupati Iwan Tuaji turun langsung menemui para demonstran, mewakili Bupati Asgianto ST yang sedang berhalangan hadir. Dengan sikap terbuka, Iwan mengapresiasi keberanian para pemuda.
“Terima kasih atas kritik dan kepedulian kalian. Pemerintah membutuhkan suara-suara seperti ini agar kami tetap berjalan di jalur yang benar,” ungkap Wabup, disambut tepuk tangan massa aksi.
Namun di balik respons diplomatis itu, desakan untuk transparansi dan keberpihakan kepada rakyat tetap menjadi sorotan utama. Para pemuda ini tak hanya menuntut janji, tapi juga aksi nyata.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan gemerlap anggaran, suara rakyat kembali bergema di PALI. Suara yang lahir dari kegelisahan, disuarakan oleh mereka yang menolak diam: pemuda-pemuda yang tak ingin tanah kelahirannya tenggelam dalam birokrasi yang beku dan janji yang hampa.[red]










