Dari Pekarangan Jadi Penghidupan: Kisah Ibu Yeni Menyembuhkan Lewat Tanaman Obat
MUBA [kabarpali.com] - Adalah Yeni Lusmita. Perempuan yang kini berusia lebih dari setengah abad, yang tinggal di Desa Gajah Mati, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Ibu beranak tiga itu, kini masuk ke dalam jajaran orang penting dan terpandang di desanya. Pasalnya, ia sekarang mampu meracik berbagai tanaman herbal yang begitu bermanfaat sebagai obat yang menyembuhkan.
Di sebuah kediamannya yang sederhana, aroma rempah dan daun kering menyambut setiap tamu yang datang. Di pojok ruang tamunya, deretan toples berisi bubuk herbal tersusun rapi; beberapa diberi label jahe instan, kunyit asam, dan serbuk temulawak. Kini, Yeni mengisi hari-harinya dengan menimbang dan meracik tanaman obat untuk membantu sesama, sekaligus menambah pendapatan keluarganya.
Dituturkan Yeni, pada mulanya, ia mendapat ilmu yang begitu bermanfaat itu pada medio 2012. Kala itu, sebuah perusahaan migas bernama PT Medco E&P Indonesia memperkenalkan Program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di desanya. Awalnya, ia mengaku tertarik ikut serta hanya karena ingin belajar menanam. Namun siapa sangka, dari sekadar menanam, sekarang dari jari tangan perempuan desa itu, lahir 15 produk herbal yang tak hanya menyehatkan, tapi juga menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.
Dari Program TOGA Hingga Menjadi Sumber Penghidupan
Perkenalan Ibu Yeni dengan tanaman obat terus berlanjut secara intensif melalui Program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang dihelat oleh PT Medco E&P Indonesia. Program ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat, khususnya kaum ibu, melalui pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam tanaman obat.
Kegiatan tersebut, sebelumnya diawali dengan assessment di beberapa desa di Blok Rimau, termasuk Gajah Mati, Tabuan Asri, Babat Banyu Asin, dan Tanjung Kerang. Kesemuanya adalah wilayah operasional perusahaan tersebut. Dari hasil penjajakan, ditemukan potensi besar baik dari segi sumber daya alam maupun manusia. Maka dimulailah berbagai pelatihan — mulai dari pembuatan pupuk organik (MOL dan kompos), pembangunan green house, hingga pengenalan jenis tanaman obat dan manfaatnya.
Tak berhenti di situ, para peserta juga dibekali berbagai keterampilan mengolah tanaman obat menjadi produk siap konsumsi: minuman herbal, bubuk instan, hingga camilan sehat. Ibu Yeni termasuk yang paling antusias. Ia bahkan mendalami cara membuat kemasan yang menarik agar produknya punya nilai jual lebih tinggi.
“Sejak awal saya bersemangat, karena tanaman obat mudah ditemukan di sekitar kami,” tutur Ibu Yeni dengan senyum hangat. “Setelah tahu manfaat dan cara mengolahnya dari pelatihan Medco, saya ingin membantu warga sekitar yang sakit dengan ramuan herbal ini.”
Perempuan, Herbal, dan Harapan di Pekarangan
Kini, rumah Ibu Yeni tak ubahnya klinik kecil berbasis alami. Di sana tersusun rapi berbagai racikan herbal — mulai dari simplisia (bahan kering), serbuk herbal, hingga minuman kesehatan seperti seduhan jahe dan kunyit asam. Ia pun merasa bangga bisa membantu sesama melalui skill yang ia dapatkan melalui pelatikan TOGA.
Dituturkan Yeni, pelanggannya datang silih berganti. Ada yang hanya mengeluhkan gatal, ada pula penderita diabetes dengan luka parah di kaki. “Pernah ada pasien datang dengan kondisi kaki membusuk,” kisahnya. “Alhamdulillah, setelah rutin berobat dengan ramuan kami, luka itu sembuh tanpa harus diamputasi,” ungkapnya sumringah.
Cerita-cerita kesembuhan yang tuturkan oleh masyarakat di desanya maupun tetangga desanya itulah yang membuat Ibu Yeni semakin yakin dengan jalannya. Ia tak hanya menanam, namun juga menumbuhkan harapan — bagi diri sendiri, keluarganya, dan banyak orang di sekitarnya.
Menurut Novita Ambarsari, Officer Relcom & Enhancement Area 2 Medco E&P, program TOGA memang difokuskan untuk memberdayakan perempuan di sekitar wilayah operasi perusahaan.
“Di beberapa desa, akses kesehatan masih terbatas. Dengan TOGA, ibu-ibu bisa membantu pengobatan penyakit ringan dari rumah,” jelasnya.
“Yang dilakukan Ibu Yeni ini luar biasa, karena selain membantu kesehatan warga, kegiatan ini juga menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya,” imbuh Novita.
Dari Desa untuk Negeri
Kisah sukses Ibu Yeni bukan sekadar cerita pribadinya, melainkan cermin keberhasilan Program TOGA yang dijalankan Medco E&P bersama masyarakat. Program ini terbukti memperbaiki kualitas kesehatan keluarga, serta juga meningkatkan pendapatan rumah tangga sekaligus menghijaukan lingkungan.
Hingga kini, program TOGA telah diterapkan di lima kabupaten di Sumatera Selatan, mencakup puluhan desa dan ratusan peserta: Musi Banyuasin (7 desa, 306 peserta); Banyuasin (4 desa, 277 peserta); Muara Enim (4 desa, 77 peserta); Lahat (2 desa, 91 peserta); Musi Rawas (4 desa, 142 peserta).
Atas keberhasilannya itu, Medco E&P bersama mitra binaannya berhasil meraih penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI — sebuah pengakuan atas komitmen perusahaan dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Kini, di bawah rindangnya pekarangan rumahnya, Ibu Yeni terus menanam harapan. Setiap daun sirih, rimpang kunyit, dan jahe merah yang tumbuh di tangannya bukan sekadar tanaman obat — melainkan simbol ketekunan, cinta, dan kepedulian seorang ibu terhadap kesehatan dan kesejahteraan desanya.[Jo5a]










