Kakek Fe’i dan Pempek: Kisah Keteguhan Seorang Penjaja Jalanan di PALI

Oleh Redaksi KABARPALI | 19 Mei 2025
Kakek Fe'i


Di tengah teriknya siang kota Pendopo, di kawasan Gelora 10 November, Komperta, sebuah pemandangan yang tak asing lagi menghiasi sudut lapangan: seorang pria renta bertubuh ramping berjalan perlahan namun pasti, memikul dua keranjang berisi pempek yang menggantung seimbang di pundaknya.

Namanya Muhammad Syafei, tapi warga lebih akrab memanggilnya Kakek Fe’i. Usianya sekitar 70 tahun—tepatnya ia sendiri tidak ingat. Tapi soal semangat hidup, tak ada yang meragukan pria kelahiran Talang Nanas, Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) ini.

Siang itu, waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB. Mengenakan topi usang dan sepatu kets putih yang berajut tambalan di sana sini. Kakek Fe'i nampak bersemangat. Senyum sumringah dari bibirnya yang keriput, menularkan keceriaan dan kebahagiaan, kepada siapapun yang memandang.

Fe’i telah menjajakan pempek sejak tahun 1986. Hampir empat dekade. Langkah kakinya mengitari kota Pendopo dari siang hingga sore, membawa rasa khas cuka pedas yang menjadi identitas pempek jualannya.

"Kalau pagi-pagi, orang sini belum mau makan pempek. Mungkin karena cukanya pedas, tak nyaman di perut," ujarnya sambil tersenyum, menyeka keringat di dahinya.

Meski usia tak lagi muda, tubuh Kakek Fe’i masih kuat. Ia jarang sakit, dan tetap sanggup memikul dagangannya sendiri. Ia mengambil pempek dari seorang juragan, dengan sistem bagi hasil tiga banding satu. Sehari, jika habis ia bisa membawa pulang keuntungan antara 50.000 hingga 100.000 rupiah. Bukan jumlah yang besar, tapi cukup untuk bertahan hidup.

"Kalau dapat Rp300 ribu. Saya kebagian Rp100 ribu. Itu artinya dagangan laris dan habis. Tapi kalau tidak, paling dapat Rp50 ribu saja," tuturnya, sembari meminum air putih di botol plastik bekas air mineral, yang di bawanya.

Saat ini, Fe’i tinggal di kawasan Talang Miring, Pendopo, sejak tahun 1960. Di sanalah ia membesarkan keempat anaknya, yang tiga di antaranya kini telah memberinya empat cucu.

Namun hidup tidak selalu ramah. Dulu, Ibunya meninggal ketika ia baru berusia 12 tahun. Ayahnya menyusul tiga tahun kemudian. Hidup sebatang kara sejak muda, Fe’i mengenal kerasnya hidup sejak dini.

Meski usia terus beranjak, Fe’i tidak pernah berpikir untuk berhenti. “Sekarang ini susah cari kerja. Kalau saya tidak jualan, saya makan apa?” katanya lirih.

Ia sadar, suatu hari nanti tubuhnya mungkin tak lagi mampu berjalan sejauh ini. Tapi hingga saat itu tiba, Fe’i memilih untuk terus melangkah, menjajakan pempek, menyapa pelanggan setia yang sudah mengenalnya selama puluhan tahun.

Ketika ditanya tentang suka duka, ia hanya tertawa kecil. “Paling sering itu kehujanan, kepanasan. Tapi ya begitulah. Sudah biasa,” ujarnya ringan. Tak ada keluhan, hanya keteguhan dan ketulusan dalam menjalani hidup.

Di kota kecil yang terus berkembang, Fe’i adalah potongan kisah yang tak tergantikan. Ia bukan sekadar penjual pempek—ia adalah kenangan, keteguhan, dan bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengenal usia.

Langkah-langkah kecilnya menyusuri kota Pendopo bukan hanya demi rezeki, tapi juga demi harga diri dan cinta pada kehidupan.

Fe’i, dengan segala kesederhanaannya, telah menjadi legenda di antara aroma cuka dan cerita jalanan. Dan selama tubuhnya masih sanggup berdiri, ia akan terus berjalan.[josa]

BERITA LAINNYA

101833 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

78841 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39241 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25606 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23409 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

Di tengah teriknya siang kota Pendopo, di kawasan Gelora 10 November, Komperta, sebuah pemandangan yang tak asing lagi menghiasi sudut lapangan: seorang pria renta bertubuh ramping berjalan perlahan namun pasti, memikul dua keranjang berisi pempek yang menggantung seimbang di pundaknya.

Namanya Muhammad Syafei, tapi warga lebih akrab memanggilnya Kakek Fe’i. Usianya sekitar 70 tahun—tepatnya ia sendiri tidak ingat. Tapi soal semangat hidup, tak ada yang meragukan pria kelahiran Talang Nanas, Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) ini.

Siang itu, waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB. Mengenakan topi usang dan sepatu kets putih yang berajut tambalan di sana sini. Kakek Fe'i nampak bersemangat. Senyum sumringah dari bibirnya yang keriput, menularkan keceriaan dan kebahagiaan, kepada siapapun yang memandang.

Fe’i telah menjajakan pempek sejak tahun 1986. Hampir empat dekade. Langkah kakinya mengitari kota Pendopo dari siang hingga sore, membawa rasa khas cuka pedas yang menjadi identitas pempek jualannya.

"Kalau pagi-pagi, orang sini belum mau makan pempek. Mungkin karena cukanya pedas, tak nyaman di perut," ujarnya sambil tersenyum, menyeka keringat di dahinya.

Meski usia tak lagi muda, tubuh Kakek Fe’i masih kuat. Ia jarang sakit, dan tetap sanggup memikul dagangannya sendiri. Ia mengambil pempek dari seorang juragan, dengan sistem bagi hasil tiga banding satu. Sehari, jika habis ia bisa membawa pulang keuntungan antara 50.000 hingga 100.000 rupiah. Bukan jumlah yang besar, tapi cukup untuk bertahan hidup.

"Kalau dapat Rp300 ribu. Saya kebagian Rp100 ribu. Itu artinya dagangan laris dan habis. Tapi kalau tidak, paling dapat Rp50 ribu saja," tuturnya, sembari meminum air putih di botol plastik bekas air mineral, yang di bawanya.

Saat ini, Fe’i tinggal di kawasan Talang Miring, Pendopo, sejak tahun 1960. Di sanalah ia membesarkan keempat anaknya, yang tiga di antaranya kini telah memberinya empat cucu.

Namun hidup tidak selalu ramah. Dulu, Ibunya meninggal ketika ia baru berusia 12 tahun. Ayahnya menyusul tiga tahun kemudian. Hidup sebatang kara sejak muda, Fe’i mengenal kerasnya hidup sejak dini.

Meski usia terus beranjak, Fe’i tidak pernah berpikir untuk berhenti. “Sekarang ini susah cari kerja. Kalau saya tidak jualan, saya makan apa?” katanya lirih.

Ia sadar, suatu hari nanti tubuhnya mungkin tak lagi mampu berjalan sejauh ini. Tapi hingga saat itu tiba, Fe’i memilih untuk terus melangkah, menjajakan pempek, menyapa pelanggan setia yang sudah mengenalnya selama puluhan tahun.

Ketika ditanya tentang suka duka, ia hanya tertawa kecil. “Paling sering itu kehujanan, kepanasan. Tapi ya begitulah. Sudah biasa,” ujarnya ringan. Tak ada keluhan, hanya keteguhan dan ketulusan dalam menjalani hidup.

Di kota kecil yang terus berkembang, Fe’i adalah potongan kisah yang tak tergantikan. Ia bukan sekadar penjual pempek—ia adalah kenangan, keteguhan, dan bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengenal usia.

Langkah-langkah kecilnya menyusuri kota Pendopo bukan hanya demi rezeki, tapi juga demi harga diri dan cinta pada kehidupan.

Fe’i, dengan segala kesederhanaannya, telah menjadi legenda di antara aroma cuka dan cerita jalanan. Dan selama tubuhnya masih sanggup berdiri, ia akan terus berjalan.[josa]

BERITA TERKAIT

Daya Beli Masyarakat Menurun, Dinkop UKM PALI Siapkan Terobosan PALI Night Culinary

06 Juni 2026 342

PALI [kabarpali.com] – Di tengah melemahnya daya beli masyarakat akibat [...]

BPS PALI Gelar Forum Konsultasi Publik, Dorong Peningkatan Layanan Statistik

27 Mei 2026 238

PALI [kabarpali.com] — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Penukal Abab [...]

Pererat Sinergi dengan Media, Bupati PALI Kurbankan Sapi untuk Insan Pers

27 Mei 2026 234

PALI [kabarpali.com] - Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Asgianto, [...]

close button