Selain Harga Jual Mahal, Tabung Gas 3kg di PALI Juga Kerap Langka

Oleh Redaksi KABARPALI | 24 September 2025
Ilustrasi/net


PALI [kabarpali.com] – Kelangkaan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram atau yang dikenal dengan sebutan gas melon terus terjadi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, semakin kesulitan memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.

Selain sulit ditemukan, harga jual gas melon di lapangan juga kerap melambung tinggi. Di tingkat pengecer, harga per tabung bisa mencapai Rp30 ribu, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni sekitar Rp18 ribu.

Hosi (40), seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Talang Ubi, mengaku sering kecewa karena stok gas melon hampir selalu habis di pasaran.

“Kalau di agen, masyarakat tidak bisa beli langsung. Mereka sudah jual ke warung-warung. Di warung, harganya bisa Rp30 ribuan. Sangat jauh di atas HET,” ungkapnya, Rabu (24/9/2025).

Menurut Hosi, mahalnya harga sebenarnya tidak menjadi persoalan besar jika ketersediaan barang selalu ada. Namun yang terjadi di lapangan, gas melon justru kerap langka.

“Sering sekali kami tidak bisa masak karena gas habis. Masalah ini sudah lama terjadi, tapi pemerintah melalui Disperindag seolah tidak mampu mengatasinya,” ujarnya dengan nada kesal.

Ia pun mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) PALI untuk segera mengevaluasi distribusi dan memastikan kuota yang memadai. Menurutnya, jika kuota elpiji 3 kg sesuai dengan kebutuhan rumah tangga, harga akan terkendali dengan sendirinya.

“Ini kan sudah menjadi tugas pokok mereka. Masa masalah begini harus terus disuarakan oleh masyarakat? Kalau tidak becus, sebaiknya kepala daerah mengevaluasi kinerja jajarannya,” tegas Hosi.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Disperindag PALI, Ida Martini, belum memberikan tanggapan. Pesan konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp telah berstatus terkirim, namun belum dijawab.[red]

BERITA LAINNYA

101936 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

79062 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39391 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25915 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23553 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

PALI [kabarpali.com] – Kelangkaan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram atau yang dikenal dengan sebutan gas melon terus terjadi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, semakin kesulitan memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.

Selain sulit ditemukan, harga jual gas melon di lapangan juga kerap melambung tinggi. Di tingkat pengecer, harga per tabung bisa mencapai Rp30 ribu, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni sekitar Rp18 ribu.

Hosi (40), seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Talang Ubi, mengaku sering kecewa karena stok gas melon hampir selalu habis di pasaran.

“Kalau di agen, masyarakat tidak bisa beli langsung. Mereka sudah jual ke warung-warung. Di warung, harganya bisa Rp30 ribuan. Sangat jauh di atas HET,” ungkapnya, Rabu (24/9/2025).

Menurut Hosi, mahalnya harga sebenarnya tidak menjadi persoalan besar jika ketersediaan barang selalu ada. Namun yang terjadi di lapangan, gas melon justru kerap langka.

“Sering sekali kami tidak bisa masak karena gas habis. Masalah ini sudah lama terjadi, tapi pemerintah melalui Disperindag seolah tidak mampu mengatasinya,” ujarnya dengan nada kesal.

Ia pun mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) PALI untuk segera mengevaluasi distribusi dan memastikan kuota yang memadai. Menurutnya, jika kuota elpiji 3 kg sesuai dengan kebutuhan rumah tangga, harga akan terkendali dengan sendirinya.

“Ini kan sudah menjadi tugas pokok mereka. Masa masalah begini harus terus disuarakan oleh masyarakat? Kalau tidak becus, sebaiknya kepala daerah mengevaluasi kinerja jajarannya,” tegas Hosi.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Disperindag PALI, Ida Martini, belum memberikan tanggapan. Pesan konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp telah berstatus terkirim, namun belum dijawab.[red]

BERITA TERKAIT

PALI Resmi Luncurkan PPLPD 2026, Siapkan Atlet Pelajar Berprestasi dari Tiga Cabang Olahraga

23 Juli 2026 158

PALI [kabarpali.com] – Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [...]

Kejari PALI Tetapkan Lima Tersangka Korupsi, Kerugian Negara Capai Rp900 Juta

21 Juli 2026 1049

PALI [kabarpali.com] – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Penukal Abab [...]

Disbudpar PALI Bentuk Komunitas Ekonomi Kreatif, Siapkan Rencana Aksi Pengembangan Daerah

20 Juli 2026 238

PALI [kabarpali.com] – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) [...]

close button