Melestarikan Warisan Puyang Nengkoda: Jelang Sedekah Bedusun, Pusaka Mulai dimunculkan

Oleh Redaksi KABARPALI | 25 Agustus 2025
Pusaka Puyang Nengkoda


PALI [kabarpali.com] – Di sebuah sudut Desa Purun, Kecamatan Penukal, aroma sejarah terasa kental. Senin siang (25/8/2025), sebuah rumah panggung tampak lebih ramai dari biasanya. Di dalamnya, para tetua adat sibuk menurunkan pusaka tua dari pucuk pagu—ruang rahasia di atas plafon rumah adat. Satu per satu benda keramat, seperti keris, kujur (tombak), dan perkakas logam kuno, yang usianya ditaksir ratusan tahun, dikeluarkan dengan penuh kehati-hatian.

Benda-benda ini bukan sekadar logam berkarat. Mereka adalah saksi bisu perjalanan leluhur yang disebut Puyang Nengkoda, tokoh yang diyakini sebagai pendiri dan pelindung Dusun Purun. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pusaka ini memegang makna spiritual yang mendalam, penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Semua ini dilakukan menjelang Sedekah Bedusun, sebuah upacara adat yang akan berlangsung pada 27 dan 28 Agustus 2025. Tradisi ini terakhir kali digelar hampir tiga dekade silam, pada tahun 1996. Kini, upacara sakral ini kembali dihidupkan, seolah menjadi jembatan untuk menyatukan kembali memori kolektif masyarakat Purun.

“Sedekah Bedusun bukan sekadar ritual. Ini adalah doa bersama, wujud syukur, dan permohonan agar desa selalu dijauhkan dari musibah,” tutur Iwan Tuaji, SH, Wakil Bupati PALI sekaligus putra asli Desa Purun yang menjadi penggerak acara ini.

Bagi masyarakat, Sedekah Bedusun adalah tolak balak—ritual membuang sial—dan sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur. Pusaka dicuci, doa dipanjatkan, dan hewan korban seperti kerbau serta sapi disembelih sebagai lambang persembahan syukur. Tak hanya itu, warga juga melakukan prosesi mancur kujur (membersihkan tombak pusaka) dan menghanyutkan rakit di sungai, simbol perjalanan hidup yang harus terus mengalir.

Yang paling istimewa dari Sedekah Bedusun bukan hanya prosesi adatnya, tetapi makna kebersamaan yang terkandung di dalamnya. Pada hari pelaksanaan, seluruh warga libur bekerja, meninggalkan kebun, dan berkumpul tanpa terkecuali. Desa yang biasanya sepi mendadak berubah menjadi pusat keramaian, penuh tawa, cerita, dan doa.

“Ini juga sarana silaturahmi. Semua warga berkumpul, makan bersama, dan merasakan kembali nilai gotong royong yang mulai memudar di era sekarang,” tambah Iwan.

Upacara yang akan berlangsung selama dua hari ini akan diawali dengan ziarah ke makam Puyang Nengkoda, dilanjutkan prosesi adat seperti mancur kujur, menghanyutkan rakit, dan pemotongan kerbau serta sapi. Hari kedua menjadi puncak acara, dengan kehadiran Bupati dan Wakil Bupati PALI sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.

Puyang Nengkoda sendiri dikenal sebagai leluhur pendiri Dusun Purun, sosok yang dipercaya memiliki keahlian dalam pelayaran dan strategi pertahanan. Dalam sejarah tutur, beliau dianggap sebagai pelindung yang membawa kemakmuran dan keselamatan bagi keturunannya. Oleh karena itu, pusaka yang diturunkan diyakini memiliki nilai spiritual tinggi, sehingga harus dirawat dan dihormati.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Sedekah Bedusun menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah identitas. Tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana generasi kini belajar dari kearifan leluhur—menghargai sejarah, menjaga kebersamaan, dan selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.

Bumi Serepat Serasan kembali bersiap menyambut ritual agung ini. Sebuah warisan yang tidak sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus hidup dalam jiwa setiap anak keturunan Puyang Nengkoda.[js]

BERITA LAINNYA

102029 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

79440 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39566 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

26211 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23651 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

PALI [kabarpali.com] – Di sebuah sudut Desa Purun, Kecamatan Penukal, aroma sejarah terasa kental. Senin siang (25/8/2025), sebuah rumah panggung tampak lebih ramai dari biasanya. Di dalamnya, para tetua adat sibuk menurunkan pusaka tua dari pucuk pagu—ruang rahasia di atas plafon rumah adat. Satu per satu benda keramat, seperti keris, kujur (tombak), dan perkakas logam kuno, yang usianya ditaksir ratusan tahun, dikeluarkan dengan penuh kehati-hatian.

Benda-benda ini bukan sekadar logam berkarat. Mereka adalah saksi bisu perjalanan leluhur yang disebut Puyang Nengkoda, tokoh yang diyakini sebagai pendiri dan pelindung Dusun Purun. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pusaka ini memegang makna spiritual yang mendalam, penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Semua ini dilakukan menjelang Sedekah Bedusun, sebuah upacara adat yang akan berlangsung pada 27 dan 28 Agustus 2025. Tradisi ini terakhir kali digelar hampir tiga dekade silam, pada tahun 1996. Kini, upacara sakral ini kembali dihidupkan, seolah menjadi jembatan untuk menyatukan kembali memori kolektif masyarakat Purun.

“Sedekah Bedusun bukan sekadar ritual. Ini adalah doa bersama, wujud syukur, dan permohonan agar desa selalu dijauhkan dari musibah,” tutur Iwan Tuaji, SH, Wakil Bupati PALI sekaligus putra asli Desa Purun yang menjadi penggerak acara ini.

Bagi masyarakat, Sedekah Bedusun adalah tolak balak—ritual membuang sial—dan sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur. Pusaka dicuci, doa dipanjatkan, dan hewan korban seperti kerbau serta sapi disembelih sebagai lambang persembahan syukur. Tak hanya itu, warga juga melakukan prosesi mancur kujur (membersihkan tombak pusaka) dan menghanyutkan rakit di sungai, simbol perjalanan hidup yang harus terus mengalir.

Yang paling istimewa dari Sedekah Bedusun bukan hanya prosesi adatnya, tetapi makna kebersamaan yang terkandung di dalamnya. Pada hari pelaksanaan, seluruh warga libur bekerja, meninggalkan kebun, dan berkumpul tanpa terkecuali. Desa yang biasanya sepi mendadak berubah menjadi pusat keramaian, penuh tawa, cerita, dan doa.

“Ini juga sarana silaturahmi. Semua warga berkumpul, makan bersama, dan merasakan kembali nilai gotong royong yang mulai memudar di era sekarang,” tambah Iwan.

Upacara yang akan berlangsung selama dua hari ini akan diawali dengan ziarah ke makam Puyang Nengkoda, dilanjutkan prosesi adat seperti mancur kujur, menghanyutkan rakit, dan pemotongan kerbau serta sapi. Hari kedua menjadi puncak acara, dengan kehadiran Bupati dan Wakil Bupati PALI sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.

Puyang Nengkoda sendiri dikenal sebagai leluhur pendiri Dusun Purun, sosok yang dipercaya memiliki keahlian dalam pelayaran dan strategi pertahanan. Dalam sejarah tutur, beliau dianggap sebagai pelindung yang membawa kemakmuran dan keselamatan bagi keturunannya. Oleh karena itu, pusaka yang diturunkan diyakini memiliki nilai spiritual tinggi, sehingga harus dirawat dan dihormati.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Sedekah Bedusun menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah identitas. Tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana generasi kini belajar dari kearifan leluhur—menghargai sejarah, menjaga kebersamaan, dan selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.

Bumi Serepat Serasan kembali bersiap menyambut ritual agung ini. Sebuah warisan yang tidak sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus hidup dalam jiwa setiap anak keturunan Puyang Nengkoda.[js]

BERITA TERKAIT

Atlet Catur PALI Torehkan Prestasi di Kejurprov Sumsel 2026, Raih 8 Medali

15 September 2026 350

Palembang [kabarpali.com] — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan [...]

Kabar Duka, Ibunda Bupati PALI Asgianto Meninggal Dunia

11 September 2026 297

Palembang [kabarpali.com] – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Bupati [...]

Tingkatkan Kesiapsiagaan Sejak Dini, Medco E&P Edukasi Siswa SDN 33 Ibul Hadapi Bahaya Api

04 September 2026 305

PALI [kabarpali.com] - Pengetahuan tentang keselamatan dan penanganan kebakaran [...]

close button