Ketika Takbir Mengiringi Tangis: Harith Pergi di Hari Raya
PALI [kabarpali.com] - Kamis, 7 Juni 2025. Langit Talang Ubi, Kabupaten PALI, tampak tak bersahabat sejak siang. Mentari bersinar terik tanpa belas kasih. Tapi di hati Joni dan keluarganya, mendung tak henti menggantung. Kegelisahan menjelma doa yang tak putus, harapan yang menipis dari menit ke menit. Anak sulung mereka, Muhammad Harith Alfarezi, yang baru berusia empat tahun, tiba-tiba hilang.
Tak ada firasat apa pun. Si kecil Harith, dengan wajah manis dan senyum yang sering mencairkan suasana, hanya sedang bermain bersama adiknya yang berusia dua tahun. Lalu, ia melangkah keluar. Tak kembali. Tak bersuara. Seakan lenyap ditelan semesta.
Senja datang menggantikan siang. Cahaya oranye menyapu langit Talang Ubi. Di saat sebagian orang mulai bersiap menyambut malam dengan persiapan Idul Adha, linimasa media sosial justru riuh oleh kabar kehilangan Harith. Foto mungilnya menyebar, dibagikan dengan harap—agar siapa pun yang melihat, bisa membantu menemukan.
Pencarian berlangsung tanpa jeda. Dunia nyata dan dunia maya bersatu dalam satu misi: membawa Harith pulang. Ketika gema takbir menggema dari surau dan masjid, Joni dan keluarga menelusuri lorong-lorong, menyibak semak dan mengais harapan di tiap rerimbunan. Suara takbir bercampur dengan detak cemas dan isak tertahan.
Hingga malam menebal, pada pukul 20.30 WIB, sepasang sandal kecil ditemukan oleh petugas yang membantu pencarian. Tak jauh dari sana, tangan mungil terlihat mengapung di permukaan air Kolam Lubis, sekitar satu kilometer dari rumah mereka di Komperta. Dunia Joni runtuh seketika.
Harith memang ditemukan. Tapi bukan dalam pelukan seperti yang diharapkan. Tubuh kecilnya telah lepas dari raganya. Ia telah berpulang, terbang ke pelukan Sang Pemilik Hidup. Menghadap Rabb yang Maha Penyayang, membawa cinta dan kenangan yang tak akan lekang.
Idul Adha bagi Joni bukan sekadar hari kurban. Tahun ini, ia benar-benar berkurban. Bukan kambing atau sapi. Tapi sesuatu yang jauh lebih berharga—buah hati yang selama ini ia jaga dengan sepenuh jiwa. Rasa kehilangan itu menggoreskan luka yang dalam, namun juga mengajarkan makna kepasrahan.
"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."
— QS. Al-Anfal: 28
Di tengah gema takbir dan hiruk-pikuk perayaan, Joni dan keluarganya justru diuji dalam bentuk yang tak terbayangkan. Namun mereka belajar, bahwa segala yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan. Bahwa cinta sejati pada Allah teruji justru saat yang paling dicintai harus dilepaskan.
Hari raya kurban tak hanya soal ibadah lahiriah. Ia adalah lambang ketaatan, juga pengingat akan keikhlasan. Dan dalam kisah Joni, masyarakat PALI belajar, bahwa kurban bisa hadir dalam bentuk kehilangan yang menguji iman dan keteguhan hati.
Malam itu, Talang Ubi tak hanya berduka karena kehilangan seorang anak. Ia juga bersaksi atas kasih sayang yang begitu dalam dari seorang ayah dan keluarga. Tangis bukan hanya milik Joni. Seluruh warga turut meneteskan air mata, mengirimkan doa tulus untuk almarhum Muhammad Harith Alfarezi.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali."
— QS. Al-Baqarah: 156
Selamat jalan, Harith kecil. Semoga taman surga menyambutmu dengan senyum yang tak pernah pudar. Dan semoga keluarga yang kau tinggalkan, diberikan ketabahan yang tak pernah putus. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[josa]










