Cerita Local Hero di Muara Enim : Hajar Hama Jeruk dengan Agen Hayati

Oleh Redaksi KABARPALI | 28 Februari 2024
Khairil Anam.


Prabumulih [kabarpali.com] - "Kini denyut nadi kami yang hampir hilang, telah berdetak lagi," tutur Khairil Anam, bersemangat.

Sore itu, Rabu (28/2/2024), Pria berpostur tinggi, berkulit sawo matang itu dikerubungi puluhan wartawan. Para pewarta penasaran dengan cerita kesuksesan Khairil bisa menjadi local hero, di desanya Air Talas, Kecamatan Rambang Niru Kabupaten Muara Enim.

Dituturkan Khairil, kisahnya berawal pada tahun 2003 lalu. Saat itu pencahariannya sebagai petani jeruk siam terganggu oleh hama jamur yang menyebabkan tanaman mengalami kematian. 

"Untuk menormalkan lahan kembali, menurut para ahli lahan harus dikosongkan dahulu selama 9 hingga 10 tahun, baru boleh ditanam kembali," kenangnya, yang hari itu dihadirkan oleh PT. Pertamina EP Hulu Rokan Zona 4 pada kegiatan edukasi media.

Meski begitu, pada 2011, beberapa warga setempat masih mencoba bertanam jeruk sebanyak 3000 tanaman, namun hanya bertahan enam bulan saja, kemudian tanaman kembali mati.

"Kisah pilu para petani itu, akhirnya berakhir setelah PT. Pertamina EP Hulu Rokan Zona 4 Limau Field membina kami dengan menciptakan pembasmi hama yang disebut Tricoderna atau agen hayati," tukas pria beranak dua itu.

Agen hayati, dijelaskan Khairil, berasal dari fermentasi nasi yang di campur dengan air cucian beras, yang di simpan selama 6 harian. Hasilnya kemudian diaplikasikan ke tanaman, untuk membasmi hama.

"Sekarang, kami semua senang, karena sudah bisa bertanam lagi. Sehingga bisa beromset hingga Rp35 jutaan per sekali panen, untuk tanaman 300 batang," imbuhnya senang.

Kini, pria transmigran dari Bali itu, mulai menyebarkan ilmu yang ia peroleh untuk dibagi pada petani lainnya. Ia berharap PHR Limau Field akan selalu membina mereka, untuk selalu menjadi local hero bagi profesi mereka sendiri.[red]

BERITA LAINNYA

54512 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

22731 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

20211 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

19795 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

19031 KaliFenomena Apa? Puluhan Gajah Liar di PALI Mulai Turun ke Jalan

PALI [kabarpali.com] - Ulah sekumpulan satwa bertubuh besar mendadak [...]

15 Desember 2019

Prabumulih [kabarpali.com] - "Kini denyut nadi kami yang hampir hilang, telah berdetak lagi," tutur Khairil Anam, bersemangat.

Sore itu, Rabu (28/2/2024), Pria berpostur tinggi, berkulit sawo matang itu dikerubungi puluhan wartawan. Para pewarta penasaran dengan cerita kesuksesan Khairil bisa menjadi local hero, di desanya Air Talas, Kecamatan Rambang Niru Kabupaten Muara Enim.

Dituturkan Khairil, kisahnya berawal pada tahun 2003 lalu. Saat itu pencahariannya sebagai petani jeruk siam terganggu oleh hama jamur yang menyebabkan tanaman mengalami kematian. 

"Untuk menormalkan lahan kembali, menurut para ahli lahan harus dikosongkan dahulu selama 9 hingga 10 tahun, baru boleh ditanam kembali," kenangnya, yang hari itu dihadirkan oleh PT. Pertamina EP Hulu Rokan Zona 4 pada kegiatan edukasi media.

Meski begitu, pada 2011, beberapa warga setempat masih mencoba bertanam jeruk sebanyak 3000 tanaman, namun hanya bertahan enam bulan saja, kemudian tanaman kembali mati.

"Kisah pilu para petani itu, akhirnya berakhir setelah PT. Pertamina EP Hulu Rokan Zona 4 Limau Field membina kami dengan menciptakan pembasmi hama yang disebut Tricoderna atau agen hayati," tukas pria beranak dua itu.

Agen hayati, dijelaskan Khairil, berasal dari fermentasi nasi yang di campur dengan air cucian beras, yang di simpan selama 6 harian. Hasilnya kemudian diaplikasikan ke tanaman, untuk membasmi hama.

"Sekarang, kami semua senang, karena sudah bisa bertanam lagi. Sehingga bisa beromset hingga Rp35 jutaan per sekali panen, untuk tanaman 300 batang," imbuhnya senang.

Kini, pria transmigran dari Bali itu, mulai menyebarkan ilmu yang ia peroleh untuk dibagi pada petani lainnya. Ia berharap PHR Limau Field akan selalu membina mereka, untuk selalu menjadi local hero bagi profesi mereka sendiri.[red]

BERITA TERKAIT

Tuntutannya diabaikan Pertamina Pendopo, Warga Sukamaju akan Demo Lagi?

19 Juli 2024 469

PALI [kabarpali.com] - Pasca melakukan aksi unjuk rasa, Rabu (17/7/2024) lalu, [...]

KPU PALI Sosialisasi Pilkada di Pasar Tempirai

17 Juli 2024 580

Penukal Utara [kabarpali.com] - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Penukal [...]

Wewenang dan Tugas Badan Permusyawaratan Desa

17 Juli 2024 252

BADAN Permusyawaratan Desa (BPD) adalah lembaga yang dibentuk di setiap desa di [...]

close button