Refleksi 100 Hari Asgianto – Iwan Tuaji : Bara Semangat yang Menyala, Semoga Tak Pernah Padam
PALI [kabarpali.com] – Siang itu, Selasa 27 Mei 2025, halaman Gedung Dekranasda Kabupaten PALI tak sekadar menjadi tempat acara seremonial biasa. Di antara kursi tamu dan deretan pejabat yang hadir, ada getar rasa yang terasa kuat: harapan, tekad, dan keyakinan.
Dari balik podium, suara lantang seorang pria mengudara—tegas, jelas, namun tak bisa menyembunyikan emosi yang perlahan menggenangi matanya. Ia bukan sekadar menyampaikan laporan. Ia sedang menyalakan bara.
Pria itu adalah Asgianto, S.T., Bupati PALI, didampingi oleh sang wakil, Iwan Tuaji, S.H. Dalam usia kepemimpinan yang baru seumur jagung—100 hari pasca pelantikan setelah memenangkan Pilkada 27 November 2024—mereka hadir bukan hanya untuk mengabarkan capaian, tapi lebih dari itu: membagikan nyala semangat.
“Seratus hari ini adalah fondasi. Kami ingin membangun kepemimpinan yang terbuka, berpihak kepada rakyat, dan siap mendengar,” ujar Asgianto, di hadapan jajaran Forkopimda dan perwakilan Gubernur Sumsel.
Tak ada klaim keberhasilan besar. Tak ada jargon kosong. Sebaliknya, yang muncul adalah kesadaran bahwa membangun PALI tak cukup dengan niat baik saja. Perubahan besar memerlukan waktu, kerja keras, dan tentu—kerja sama.
Namun, dari semangat yang diperlihatkan Asgianto – Iwan, publik bisa melihat: mereka tidak menunggu. Mereka tidak berhenti pada tumpukan rencana. Mereka mulai bekerja, melangkah, menggerakkan.
Dari deretan program prioritas yang diluncurkan, seperti “PALI Sehat Bersama”, “PALI Terdidik”, “PALI Bebas Buta Baca Al-Qur’an”, “PALI Terang Bahagia”, hingga “Kerja Keras Bebas Cemas”, tampak jelas arah pembangunan yang hendak dituju: menyentuh seluruh sisi kehidupan masyarakat—tubuh, akal, hingga nurani.
Salah satu yang paling menggugah adalah program One Village One Product (OVOP). Program ini bukan sekadar inovasi ekonomi, tetapi pernyataan sikap: bahwa pembangunan sejati harus dimulai dari desa. Bahwa potensi lokal bukanlah beban, melainkan kekuatan yang selama ini tersembunyi.
Wakil Bupati Iwan Tuaji pun menegaskan bahwa upaya ini tak akan berjalan tanpa sinergi. “Kita tidak bisa jalan sendiri. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan pembangunan ekonomi desa,” ungkapnya.
Namun, ada satu kenyataan yang tak boleh diabaikan. Semangat kepala daerah, sehebat apa pun, tak akan menghasilkan perubahan tanpa dukungan struktur birokrasi yang seirama. Tanpa OPD yang progresif, kreatif, dan berintegritas, program hanya akan berhenti di atas kertas.
Itulah sebabnya Asgianto – Iwan menginginkan lebih dari sekadar loyalitas. Mereka memerlukan kolaborator yang berani, bukan pegawai yang sekadar menyenangkan atasan. Mereka membutuhkan tim kerja yang punya visi, bukan sekadar pelaksana teknis.
Karena sejatinya, perubahan bukan produk dari satu orang. Ia lahir dari kebersamaan, dari api semangat yang menyala dalam banyak dada.
Hari itu, Asgianto tak hanya berdiri di atas panggung. Ia berdiri di titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan dari sorot matanya, tampak jelas: ia siap menempuhnya. Bersama rakyat, bersama perangkat daerah, bersama siapa pun yang bersedia bekerja keras untuk PALI yang lebih baik.
100 hari adalah awal. Bukan puncak. Tantangan masih panjang. Namun selama bara semangat itu tetap menyala, selama tangan-tangan tak lelah bekerja, maka PALI akan melangkah lebih jauh dari sekadar mimpi.
Semoga semangat Asgianto – Iwan tak berhenti pada perayaan ini saja. Semoga bara itu terus membara, dari hari ke hari, dari langkah ke langkah—hingga hari terakhir masa jabatan mereka, dan bahkan setelahnya. Untuk PALI yang maju. Untuk Indonesia Emas 2045.[red]










