Kisruh Lahan Meriu. Begini Pengakuan Warga yang Menjual pada PT EPI

Warga yang mengaku pemilik sah lahan Sinar Meriu dan telah menjualnya pada PT.EPI
18 November 2020 Comments | PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR , Headline | Oleh Redaksi KABARPALI


Abab [kabarpali.com] - Kisruh soal kepemilikan lahan yang kini telah menjadi jalan produksi PT Energate Prima Indonesia (EPI) kian menghangat.
 
Kemaren, Selasa (17/11/2020), ratusan anggota Kelompok Tani (Poktan) Sinar Meriu kembali menggelar aksi, berupa pemblokiran jalan PT EPI, di lahan tersebut, kawasan KM 5, Desa Prambatan Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
 
Aksi damai turun ke lapangan itu merupakan kali ketiga, pasca mereka juga melakukan aksi serupa di DPRD PALI. Tuntutannya juga tetap sama, mendesak PT EPI membayar kompensansi atas penggunaan lahan mereka, sepanjang 5000 x 30 meter.
 
"Kami akan terus memperjuangkan hak kami. Sebab lahan ini jelas adalah milik kami Sinar Meriu yang telah kami kelolah sejak 1981 lalu," cetus Hasan Bahri, Ketua Poktan Sinar Meriu.
 
Meski begitu, beberapa kali aksi pengerahan massa itu belum juga membuahkan hasil yang berpihak pada masyarakat, yang mayoritas bermukim di Kecamatan Abab itu.
 
Pihak PT EPI, berkilah bahwa mereka telah membeli lahan itu dari beberapa warga setempat, yang dituangkan pada Surat Pernyataan Pelimpahan Hak Atas Tanah (SPPHAT) yang ditanda tangani oleh Kepala Desa terkait dan Camat Abab.
 
"Sehingga kami tentu ada dasar menggunakan lahan itu. Sedangkan penjual yang mengaku pemilik lahan tersebut juga masih ada, serta bisa dihadirkan," cetus Manager Houling Road PT EPI, Jabat, Selasa (17/11/2020).
 
Sementara itu, Ledi, salah seorang warga Desa Penandingan Kabupaten Banyuasin, yang merupakan salah satu penjual lahan yang kini disebut kawasan KM 5 jalan industri PT EPI mengaku bahwa ia adalah pemilik sah lahan itu.
 
"Saya mulai mengelolah lahan itu pada tahun 2006. Asalnya memang bukan dari beli atau warisan, karena memang lahan tersebut tidak ada yang mengelolahnya. Sehingga pada 2009 saya membuat Surat Keterangan Tanah (SKT)," terang pria berusia sekira 50 tahunan itu, di Kantor PT EPI.
 
Selanjutnya, pada tahun 2017, saat pihak PT EPI melakukan pembelian lahan untuk membangun jalan, SKT itu ditingkatkan menjadi SPPHAT.
 
"Yang menanda tangani dan mengesahkan adalah Kepala Desa Prambatan dan Kades Persiapan Batu Tugu serta Camat Abab. Jadi ini adalah bukti sah," imbuhnya, sembari memperlihatkan SKT dan SPPHT miliknya.
 
Akibat upaya mediasi yang belum menunjukkan titik terang itu, Koptan Sinar Meriu pun siap memperkarakan para pihak yang ditudingnya telah melakukan pencaplokan terhadap tanah adat itu. 
 
"Saat ini, kami sudah berkirim surat pengaduan ke beberapa pihak. Antara lain ke Polda Sumsel, Mabes Polri, Ombudsman RI, Komnas HAM, dan beberapa institusi lainnya. Serta tak menutup kemungkinan akan menggugat secara perdata," tukas Hasan Bahri, Ketua Poktan Sinar Meriu.[red]
 
 

BERITA LAINNYA

16149 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

15489 KaliFenomena Apa? Puluhan Gajah Liar di PALI Mulai Turun ke Jalan

PALI [kabarpali.com] - Ulah sekumpulan satwa bertubuh besar mendadak [...]

15 Desember 2019

14650 KaliPura-pura Minta Kerok, Mertua Coba Perkosa Menantunya

Talang Ubi [kabarpali.com] - Tak patut sekali ulah Irsanto bin Zainal (39) [...]

30 November 2018

14291 KaliTak Hanya Bupati Muara Enim, KPK Juga Tangkap Pengusaha & Kepala Dinas PUBM

SUMSEL - Bupati Muara Enim, H, Ahmad Yani,  diduga [...]

03 September 2019

12528 KaliPolisi Amankan Sabu Senilai 2 Miliar di Air Itam, Bandarnya Berhasil Kabur

Penukal [kabarpali.com] - Warga Bumi Serepat Serasan mendadak gempar. Polisi [...]

20 Maret 2018
Abab [kabarpali.com] - Kisruh soal kepemilikan lahan yang kini telah menjadi jalan produksi PT Energate Prima Indonesia (EPI) kian menghangat.
 
Kemaren, Selasa (17/11/2020), ratusan anggota Kelompok Tani (Poktan) Sinar Meriu kembali menggelar aksi, berupa pemblokiran jalan PT EPI, di lahan tersebut, kawasan KM 5, Desa Prambatan Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
 
Aksi damai turun ke lapangan itu merupakan kali ketiga, pasca mereka juga melakukan aksi serupa di DPRD PALI. Tuntutannya juga tetap sama, mendesak PT EPI membayar kompensansi atas penggunaan lahan mereka, sepanjang 5000 x 30 meter.
 
"Kami akan terus memperjuangkan hak kami. Sebab lahan ini jelas adalah milik kami Sinar Meriu yang telah kami kelolah sejak 1981 lalu," cetus Hasan Bahri, Ketua Poktan Sinar Meriu.
 
Meski begitu, beberapa kali aksi pengerahan massa itu belum juga membuahkan hasil yang berpihak pada masyarakat, yang mayoritas bermukim di Kecamatan Abab itu.
 
Pihak PT EPI, berkilah bahwa mereka telah membeli lahan itu dari beberapa warga setempat, yang dituangkan pada Surat Pernyataan Pelimpahan Hak Atas Tanah (SPPHAT) yang ditanda tangani oleh Kepala Desa terkait dan Camat Abab.
 
"Sehingga kami tentu ada dasar menggunakan lahan itu. Sedangkan penjual yang mengaku pemilik lahan tersebut juga masih ada, serta bisa dihadirkan," cetus Manager Houling Road PT EPI, Jabat, Selasa (17/11/2020).
 
Sementara itu, Ledi, salah seorang warga Desa Penandingan Kabupaten Banyuasin, yang merupakan salah satu penjual lahan yang kini disebut kawasan KM 5 jalan industri PT EPI mengaku bahwa ia adalah pemilik sah lahan itu.
 
"Saya mulai mengelolah lahan itu pada tahun 2006. Asalnya memang bukan dari beli atau warisan, karena memang lahan tersebut tidak ada yang mengelolahnya. Sehingga pada 2009 saya membuat Surat Keterangan Tanah (SKT)," terang pria berusia sekira 50 tahunan itu, di Kantor PT EPI.
 
Selanjutnya, pada tahun 2017, saat pihak PT EPI melakukan pembelian lahan untuk membangun jalan, SKT itu ditingkatkan menjadi SPPHAT.
 
"Yang menanda tangani dan mengesahkan adalah Kepala Desa Prambatan dan Kades Persiapan Batu Tugu serta Camat Abab. Jadi ini adalah bukti sah," imbuhnya, sembari memperlihatkan SKT dan SPPHT miliknya.
 
Akibat upaya mediasi yang belum menunjukkan titik terang itu, Koptan Sinar Meriu pun siap memperkarakan para pihak yang ditudingnya telah melakukan pencaplokan terhadap tanah adat itu. 
 
"Saat ini, kami sudah berkirim surat pengaduan ke beberapa pihak. Antara lain ke Polda Sumsel, Mabes Polri, Ombudsman RI, Komnas HAM, dan beberapa institusi lainnya. Serta tak menutup kemungkinan akan menggugat secara perdata," tukas Hasan Bahri, Ketua Poktan Sinar Meriu.[red]
 
 

BERITA TERKAIT

Saat Tanam Karet, Warga Temukan Senjata Api Zaman Penjajahan

26 Januari 2021 4008

PALI [kabarpali.com] - Bejo (58), Seorang warga Desa Karang Tanding [...]

Hajatan Sudah Boleh, Sekolah Tatap Muka Masih dilarang

19 Januari 2021 793

PALI [kabarpali.com] - Lucunya negeri ini! Begitu celetukan beberapa warga [...]

Normalisasi Sungai Bernai, Warga : Justru Merusak!

13 Januari 2021 633

PALI [kabarpali.com] - Alih-alih ingin memperbaiki kondisi lingkungan yang [...]

close button