Di Mata Orang Indonesia: Mengapa Jadi ASN Lebih Membanggakan, Daripada Profesi Lain?

Oleh Redaksi KABARPALI | 01 Oktober 2025


Di banyak keluarga Indonesia, ada satu momen yang bisa menyaingi euforia pernikahan, kelulusan, atau bahkan kelahiran cucu pertama: ketika ada anggota keluarga yang resmi dilantik menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Bukan hal aneh jika kita mendengar teriakan haru, tangis bahagia, hingga konvoi kecil-kecilan di jalan desa untuk merayakan kabar gembira ini. Video histeria keluarga saat putra-putri mereka lolos seleksi CPNS kerap viral di media sosial: ada yang meloncat kegirangan, ada yang sujud syukur, ada pula yang langsung memeluk erat sang anak sambil berkata, “Akhirnya perjuangan tidak sia-sia, nak!”

Mengapa Jadi Pegawai Pemerintah Begitu Membanggakan?

1. Simbol Stabilitas dan Keamanan

Di tengah dunia kerja yang penuh ketidakpastian, profesi sebagai pegawai pemerintah identik dengan “masa depan aman.” Gaji rutin setiap bulan, tunjangan, jaminan pensiun, hingga status sosial yang lebih dihormati, membuat banyak orang tua menjadikan profesi ini sebagai cita-cita utama bagi anak-anaknya.

2. Pekerjaan yang Dianggap Prestisius

Di banyak daerah, terutama di luar kota-kota besar, menjadi PNS atau PPPK sering kali lebih dipandang tinggi dibanding menjadi pengusaha atau pekerja swasta. Meski seorang pedagang atau wirausahawan bisa meraup keuntungan berlipat, status “pegawai negeri” tetap terasa lebih bergengsi karena dianggap resmi, mapan, dan diakui negara.

3. Warisan Kebanggaan Keluarga

Tidak jarang, keluarga besar menjadikan pencapaian ini sebagai “puncak keberhasilan.” Ada perasaan seolah-olah satu keluarga berhasil naik derajat ketika ada salah satu anggotanya masuk ke jajaran abdi negara. Bahkan, tak sedikit orang tua yang rela menjual harta atau berkorban besar demi membiayai pendidikan anak, dengan harapan kelak bisa berbuah SK pengangkatan.

Momen pelantikan PNS/PPPK menjadi ajang penuh emosi. Ada yang datang berbondong-bondong ke lokasi, membawa kamera, bahkan bunga atau spanduk ucapan selamat. Tidak sedikit pula yang mengunggah foto keluarga lengkap di media sosial dengan caption penuh kebanggaan: “Alhamdulillah, anak kami resmi jadi ASN. Doakan semoga amanah!”

Di sisi lain, momen ini juga menjadi perayaan kecil dari rasa lega—bahwa perjuangan panjang ikut seleksi, belajar soal-soal, bahkan gagal berkali-kali, akhirnya berbuah manis. Tak heran jika tangis, tawa, dan pelukan membaur jadi satu.

Antara Realita dan Cita-Cita

Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya imajinasi kolektif masyarakat Indonesia terhadap profesi pegawai pemerintah. Meski dunia kini semakin terbuka untuk wirausaha, startup, atau karier di sektor swasta dengan peluang tak kalah gemilang, status ASN tetap menjadi magnet kebanggaan tersendiri.

Ada sesuatu yang begitu “menggemaskan” dari kenyataan ini: di negeri yang penuh kreativitas dan peluang, profesi abdi negara masih dianggap sebagai puncak kesuksesan hidup. Entah karena rasa aman, gengsi sosial, atau sekadar kebiasaan budaya—yang jelas, histeria keluarga saat SK CPNS/PPPK turun akan selalu jadi cerita manis yang membekas di banyak rumah tangga Indonesia.[7054]

BERITA LAINNYA

101927 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

79036 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39377 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25900 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23539 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

Di banyak keluarga Indonesia, ada satu momen yang bisa menyaingi euforia pernikahan, kelulusan, atau bahkan kelahiran cucu pertama: ketika ada anggota keluarga yang resmi dilantik menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Bukan hal aneh jika kita mendengar teriakan haru, tangis bahagia, hingga konvoi kecil-kecilan di jalan desa untuk merayakan kabar gembira ini. Video histeria keluarga saat putra-putri mereka lolos seleksi CPNS kerap viral di media sosial: ada yang meloncat kegirangan, ada yang sujud syukur, ada pula yang langsung memeluk erat sang anak sambil berkata, “Akhirnya perjuangan tidak sia-sia, nak!”

Mengapa Jadi Pegawai Pemerintah Begitu Membanggakan?

1. Simbol Stabilitas dan Keamanan

Di tengah dunia kerja yang penuh ketidakpastian, profesi sebagai pegawai pemerintah identik dengan “masa depan aman.” Gaji rutin setiap bulan, tunjangan, jaminan pensiun, hingga status sosial yang lebih dihormati, membuat banyak orang tua menjadikan profesi ini sebagai cita-cita utama bagi anak-anaknya.

2. Pekerjaan yang Dianggap Prestisius

Di banyak daerah, terutama di luar kota-kota besar, menjadi PNS atau PPPK sering kali lebih dipandang tinggi dibanding menjadi pengusaha atau pekerja swasta. Meski seorang pedagang atau wirausahawan bisa meraup keuntungan berlipat, status “pegawai negeri” tetap terasa lebih bergengsi karena dianggap resmi, mapan, dan diakui negara.

3. Warisan Kebanggaan Keluarga

Tidak jarang, keluarga besar menjadikan pencapaian ini sebagai “puncak keberhasilan.” Ada perasaan seolah-olah satu keluarga berhasil naik derajat ketika ada salah satu anggotanya masuk ke jajaran abdi negara. Bahkan, tak sedikit orang tua yang rela menjual harta atau berkorban besar demi membiayai pendidikan anak, dengan harapan kelak bisa berbuah SK pengangkatan.

Momen pelantikan PNS/PPPK menjadi ajang penuh emosi. Ada yang datang berbondong-bondong ke lokasi, membawa kamera, bahkan bunga atau spanduk ucapan selamat. Tidak sedikit pula yang mengunggah foto keluarga lengkap di media sosial dengan caption penuh kebanggaan: “Alhamdulillah, anak kami resmi jadi ASN. Doakan semoga amanah!”

Di sisi lain, momen ini juga menjadi perayaan kecil dari rasa lega—bahwa perjuangan panjang ikut seleksi, belajar soal-soal, bahkan gagal berkali-kali, akhirnya berbuah manis. Tak heran jika tangis, tawa, dan pelukan membaur jadi satu.

Antara Realita dan Cita-Cita

Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya imajinasi kolektif masyarakat Indonesia terhadap profesi pegawai pemerintah. Meski dunia kini semakin terbuka untuk wirausaha, startup, atau karier di sektor swasta dengan peluang tak kalah gemilang, status ASN tetap menjadi magnet kebanggaan tersendiri.

Ada sesuatu yang begitu “menggemaskan” dari kenyataan ini: di negeri yang penuh kreativitas dan peluang, profesi abdi negara masih dianggap sebagai puncak kesuksesan hidup. Entah karena rasa aman, gengsi sosial, atau sekadar kebiasaan budaya—yang jelas, histeria keluarga saat SK CPNS/PPPK turun akan selalu jadi cerita manis yang membekas di banyak rumah tangga Indonesia.[7054]

BERITA TERKAIT

PALI Resmi Luncurkan PPLPD 2026, Siapkan Atlet Pelajar Berprestasi dari Tiga Cabang Olahraga

23 Juli 2026 125

PALI [kabarpali.com] – Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [...]

Kejari PALI Tetapkan Lima Tersangka Korupsi, Kerugian Negara Capai Rp900 Juta

21 Juli 2026 982

PALI [kabarpali.com] – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Penukal Abab [...]

Disbudpar PALI Bentuk Komunitas Ekonomi Kreatif, Siapkan Rencana Aksi Pengembangan Daerah

20 Juli 2026 223

PALI [kabarpali.com] – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) [...]

close button