Konflik Internal Yayasan, Mahasiswa STIH Serasan Jadi "Korban"

Para mahasiswa dan dosen PDD STIH Serasan, di Kabupaten PALI foto bersama di depan kampusnya.
28 Mei 2021 Comments | PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR , PENDIDIKAN, Headline | Oleh Redaksi KABARPALI


PALI [kabarpali.com] - Pasca wafatnya Pembina Yayasan Perguruan Serasan Muara Enim, almarhum (Purn) H. Letkol Anwar Mahakil,S.H., pada 16 Mei 2020 lalu, kini Yayasan Serasan yang mengelola tiga sekolah tinggi di Kabupaten Muara Enim dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan, mengalami konflik internal berkepanjangan.
 
Hal itu berawal dari ributnya para ahli waris H. Anwar Mahakil terkait belum dibaginya harta waris peninggalan pemilik yayasan itu. Konflik itu pun berujung pada saling lapor ke aparat penegak hukum antara para pengelola Yayasan Perguruan Serasan, yang merupakan anak-anak kandung mendiang H. Anwar Mahakil.
 
Akibat persoalan tersebut, enam mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Serasan dari Kabupaten PALI pun kini seakan menjadi "korban". Mereka yang telah melalui penyusunan skripsi dan ujian akhir itu terancam tak bisa ikut wisuda, karena nilai mereka tidak dikeluarkan oleh pihak Yayasan Perguruan Serasan Muara Enim. 
 
Resah akan hal itu, diduga atas arahan pihak Yayasan di Muara Enim, para mahasiswa itu pun mengadukan Iriantoni, S.H., M.H., anak H. Anwar Mahakil dari istri pertama, yang merupakan koordinator Kampus Program Pendidikan Diluar Domisili (PDD) STIH Serasan, di Kabupaten PALI.
 
Berdasarkan Surat Tanda Terima Pengaduan (STTP) di Mapolres PALI dengan Nomor STTP/4/III/2021/Polres Pali/Satreskrim, tanggal 30 Maret 2021, salah seorang mahasiswi bernama Aneke Putri mengadukan dugaan penipuan dan penggelapan atas pembayaran SPP dan kewajiban lainnya pada semester 5, total sebesar Rp4 juta per mahasiswa.
 
"Pada 2 Oktober 2019, kami bersama lima mahasiswa yang lain membayar SPP semester 5, registrasi, senat dan SKS Semester 5, semua total Rp4 juta per orang, pada staf Tata Usaha Kampus B STIH Serasan. Namun tiba-tiba pada semester akhir, menurut Yayasan STIH Serasan Muara Enim  biaya kuliah tersebut belum disalurkan ke Yayasan Perguruan Serasan, sehingga kelulusan kami ditunda," terangnya di hadapan penyidik, dikutip dari bukti pengaduan tersebut.
 
Menanggapi pengaduan itu, Muhammad Iriantoni,S.H., M.H. pada media ini mengatakan, bahwa para mahasiswa itu sesungguhnya telah dikorbankan oleh para pengurus yayasan saat ini, yang notabene merupakan saudara-saudaranya juga.
 
"Yayasan Perguruan Serasan saat ini dikuasai oleh adik saya, yaitu Prof. Hj. Tuti Emiliah Agustina, ST.,MT.,PhD. sebagai Ketua Yayasan. Ia adalah anak dari Ibu sambung saya, istri kedua almarhum Bapak. Karena berseteru dengan saya, jadi seakan cari-cari masalah untuk mengkriminalisasi saya," tuturnya, Selasa (26/5/2021).
 
Iriantoni, yang merupakan pemilik gedung Kampus Program Pendidikan Diluar Domisili (PDD) STIH Serasan di Kabupaten PALI itu, mengaku juga telah melaporkan dua adiknya yakni Tuti Emilia Agustina, yang menjabat pula sebagai Guru Besar di Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Firman Suwargo,ST. (Pembina Yayasan Perguruan Serasan saat ini) di Polda Sumsel, dengan tuduhan penipuan dan penggelapan, karena tidak memberikan bagiannya atas penjualan mobil Toyota Land Cruiser atas nama Muhammad Iriantoni. Laporan itu tertuang di Polda Sumsel dengan nomor STLLP/91/1/2021/SPKT, tanggal 21 Januari 2021.
 
"Jadi dia ini sudah jual mobil tersebut, sesuai kesepakatan kita bagi rata 8 orang, yakni untuk Ibu sambung saya dan kakak adik yang lain. Namun justru hak saya tidak diberikannya sebesar Rp125 juta. Sehingga, karena tak ada i'tikad baik, terpaksa saya laporkan ke Polda," tukasnya.
 
Pasca laporan tersebutlah, kemudian ia tiba-tiba diadukan ke Polres PALI oleh para mahasiswa yang mengaku diancam akan ditunda kelulusannya oleh pihak Yayasan Serasan Muara Enim. Atas hal itu, tentu mahasiswa menjadi bingung dan resah.
 
"Saya sudah diundang oleh penyidik Polres untuk didengar keterangannya, dan saya ceritakan fakta-faktanya. Sehingga unsur-unsur pidana sesuai tuduhan itu sesungguhnya hanya mengada-ada dan terkesan dipaksakan saja," imbuhnya.
 
Sementara itu, Yayasan Perguruan Serasan Muara Enim melalui Sekretarisnya, M Taufik Saiman, dikonfirmasi awak media melalui pesan Whatsapp (WA) di nomor +628136892xxxx, pada Jumat siang (28/5/2021), hingga berita ini ditayangkan belum memberi statement.[red]

BERITA LAINNYA

16740 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

15859 KaliFenomena Apa? Puluhan Gajah Liar di PALI Mulai Turun ke Jalan

PALI [kabarpali.com] - Ulah sekumpulan satwa bertubuh besar mendadak [...]

15 Desember 2019

15037 KaliPura-pura Minta Kerok, Mertua Coba Perkosa Menantunya

Talang Ubi [kabarpali.com] - Tak patut sekali ulah Irsanto bin Zainal (39) [...]

30 November 2018

14612 KaliTak Hanya Bupati Muara Enim, KPK Juga Tangkap Pengusaha & Kepala Dinas PUBM

SUMSEL - Bupati Muara Enim, H, Ahmad Yani,  diduga [...]

03 September 2019

12851 KaliPolisi Amankan Sabu Senilai 2 Miliar di Air Itam, Bandarnya Berhasil Kabur

Penukal [kabarpali.com] - Warga Bumi Serepat Serasan mendadak gempar. Polisi [...]

20 Maret 2018
PALI [kabarpali.com] - Pasca wafatnya Pembina Yayasan Perguruan Serasan Muara Enim, almarhum (Purn) H. Letkol Anwar Mahakil,S.H., pada 16 Mei 2020 lalu, kini Yayasan Serasan yang mengelola tiga sekolah tinggi di Kabupaten Muara Enim dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan, mengalami konflik internal berkepanjangan.
 
Hal itu berawal dari ributnya para ahli waris H. Anwar Mahakil terkait belum dibaginya harta waris peninggalan pemilik yayasan itu. Konflik itu pun berujung pada saling lapor ke aparat penegak hukum antara para pengelola Yayasan Perguruan Serasan, yang merupakan anak-anak kandung mendiang H. Anwar Mahakil.
 
Akibat persoalan tersebut, enam mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Serasan dari Kabupaten PALI pun kini seakan menjadi "korban". Mereka yang telah melalui penyusunan skripsi dan ujian akhir itu terancam tak bisa ikut wisuda, karena nilai mereka tidak dikeluarkan oleh pihak Yayasan Perguruan Serasan Muara Enim. 
 
Resah akan hal itu, diduga atas arahan pihak Yayasan di Muara Enim, para mahasiswa itu pun mengadukan Iriantoni, S.H., M.H., anak H. Anwar Mahakil dari istri pertama, yang merupakan koordinator Kampus Program Pendidikan Diluar Domisili (PDD) STIH Serasan, di Kabupaten PALI.
 
Berdasarkan Surat Tanda Terima Pengaduan (STTP) di Mapolres PALI dengan Nomor STTP/4/III/2021/Polres Pali/Satreskrim, tanggal 30 Maret 2021, salah seorang mahasiswi bernama Aneke Putri mengadukan dugaan penipuan dan penggelapan atas pembayaran SPP dan kewajiban lainnya pada semester 5, total sebesar Rp4 juta per mahasiswa.
 
"Pada 2 Oktober 2019, kami bersama lima mahasiswa yang lain membayar SPP semester 5, registrasi, senat dan SKS Semester 5, semua total Rp4 juta per orang, pada staf Tata Usaha Kampus B STIH Serasan. Namun tiba-tiba pada semester akhir, menurut Yayasan STIH Serasan Muara Enim  biaya kuliah tersebut belum disalurkan ke Yayasan Perguruan Serasan, sehingga kelulusan kami ditunda," terangnya di hadapan penyidik, dikutip dari bukti pengaduan tersebut.
 
Menanggapi pengaduan itu, Muhammad Iriantoni,S.H., M.H. pada media ini mengatakan, bahwa para mahasiswa itu sesungguhnya telah dikorbankan oleh para pengurus yayasan saat ini, yang notabene merupakan saudara-saudaranya juga.
 
"Yayasan Perguruan Serasan saat ini dikuasai oleh adik saya, yaitu Prof. Hj. Tuti Emiliah Agustina, ST.,MT.,PhD. sebagai Ketua Yayasan. Ia adalah anak dari Ibu sambung saya, istri kedua almarhum Bapak. Karena berseteru dengan saya, jadi seakan cari-cari masalah untuk mengkriminalisasi saya," tuturnya, Selasa (26/5/2021).
 
Iriantoni, yang merupakan pemilik gedung Kampus Program Pendidikan Diluar Domisili (PDD) STIH Serasan di Kabupaten PALI itu, mengaku juga telah melaporkan dua adiknya yakni Tuti Emilia Agustina, yang menjabat pula sebagai Guru Besar di Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Firman Suwargo,ST. (Pembina Yayasan Perguruan Serasan saat ini) di Polda Sumsel, dengan tuduhan penipuan dan penggelapan, karena tidak memberikan bagiannya atas penjualan mobil Toyota Land Cruiser atas nama Muhammad Iriantoni. Laporan itu tertuang di Polda Sumsel dengan nomor STLLP/91/1/2021/SPKT, tanggal 21 Januari 2021.
 
"Jadi dia ini sudah jual mobil tersebut, sesuai kesepakatan kita bagi rata 8 orang, yakni untuk Ibu sambung saya dan kakak adik yang lain. Namun justru hak saya tidak diberikannya sebesar Rp125 juta. Sehingga, karena tak ada i'tikad baik, terpaksa saya laporkan ke Polda," tukasnya.
 
Pasca laporan tersebutlah, kemudian ia tiba-tiba diadukan ke Polres PALI oleh para mahasiswa yang mengaku diancam akan ditunda kelulusannya oleh pihak Yayasan Serasan Muara Enim. Atas hal itu, tentu mahasiswa menjadi bingung dan resah.
 
"Saya sudah diundang oleh penyidik Polres untuk didengar keterangannya, dan saya ceritakan fakta-faktanya. Sehingga unsur-unsur pidana sesuai tuduhan itu sesungguhnya hanya mengada-ada dan terkesan dipaksakan saja," imbuhnya.
 
Sementara itu, Yayasan Perguruan Serasan Muara Enim melalui Sekretarisnya, M Taufik Saiman, dikonfirmasi awak media melalui pesan Whatsapp (WA) di nomor +628136892xxxx, pada Jumat siang (28/5/2021), hingga berita ini ditayangkan belum memberi statement.[red]

BERITA TERKAIT

Masih Buron, Koruptor Rp7 M di PALI itu Sembunyi atau disembunyikan?

01 Agustus 2021 2329

Oleh : Joko Sadewo,S.H.*)   Adalah Arif Firdaus dan Mujarab. Satu mantan [...]

SKB diteken, PALI Resmi Berlakukan PPKM

21 Juli 2021 848

PALI [kabarpali.com] – Surat Keputusan Bersama (SKB) telah ditandatangani [...]

Surat Edaran Lagi, Sekolah di Gunung Raja dan Babat Penukal Juga ditunda Belajar Tatap Muka

17 Juli 2021 966

PALI [kabarpali.com] - Setelah sebelumnya merilis Surat Edaran tentang [...]

close button