Jangan Beri Suara Politisi "Piakak"

Oleh Redaksi KABARPALI | 28 Februari 2022
Ilustrasi/net.


Sebentar lagi. Terutama menyonsong 2024 yang kian dekat. Dimana kontestasi Pilpres, Pilkada dan terutama Pileg akan dilangsungkan. Suasana bernuansa politis akan riuh ramai.

Engkau akan mendapati para politisi dadakan bermunculan. Wakil rakyat petahana juga kian aktif unjuk gigi, harap simpati, agar dipilih lagi.

Oleh karena itu jangan terkejut, apalagi shock. Jika mendapati mereka yang selama ini tak pernah sudi berinteraksi denganmu, tiba-tiba ramah tamah sekali.

Secara intesif mereka akan mulai rajin mengomentari status di medsosmu. Minimal beri "like" atau bahkan "love". Di dunia nyata, mereka juga akan tersenyum lebar. Menyapamu dan bahkan mentraktirmu ngopi.

Berharap kamu akan simpati. Lalu mengajak serta anak istri, orangtua, mertua, para saudara, sahabat karib dan juga para tetangga. Kemudian meminta janji, agar kalian akan memilihnya lagi.

Sebenarnya, ini adalah cara berpolitik konvensional yang sudah basi. Dalam bahasa lokal diperibahasakan "cempedak dalam periuk - ade kendak baru ndak iluk". 

Politisi seperti ini diragukan kemampuannya, kredibilitas dan kompetensi dalam mengemban amanah rakyat sebagai anggota parlemen: menjalankan fungsi legislasi, budgeting dan controlling.

Mestinya, menjadi politisi tak boleh intropert. Harus membuka diri. Siap berinteraksi kapan pun - dimana pun. Tak alergi dikritisi. Serta aspiratif dalam memperjuangkan suara rakyat.

Tapi ya, itu kan teorinya? Betul, prinsip dagang telah membuat dinamika politik kita begitu kotor. Ada uang ada suara. Akibatnya, orang yang menjadi legislator haruslah orang kaya. Punya modal. 

Setelah jadi, mereka pun berlomba mengembalikan modal dan berebut cari untung. Bodoh amat dengan rakyat! Maen proyek sah-sah saja. Meski regulasi jelas melarangnya.

Fungsi legislasi tak signifikan. Padahal inilah tolak ukur kesuksesan kerja DPRD. Fungsi budgeting acak-adul. Banyak kasus soal anggaran daerah mencuat dan bermasalah. Fungsi pengawasan apalagi. Sekwan di depan mata saja, sanggup "mudike".

Jadi harus darimana memulainya? Jangan beri suara politisi "piakak" (culas). Hindari sogokan beli suara. Beri kesempatan kandidat yang jelas dan meyakinkan kredibilitas serta kualitasnya. Semoga ke depan PALI dapat lebih baik lagi.**

 

Penulis : J.Sadewo,S.H.,M.H.(Wartawan, Advokat, & Pengamat Politik Lokal)

BERITA LAINNYA

101905 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

78975 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39344 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25843 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23506 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

Sebentar lagi. Terutama menyonsong 2024 yang kian dekat. Dimana kontestasi Pilpres, Pilkada dan terutama Pileg akan dilangsungkan. Suasana bernuansa politis akan riuh ramai.

Engkau akan mendapati para politisi dadakan bermunculan. Wakil rakyat petahana juga kian aktif unjuk gigi, harap simpati, agar dipilih lagi.

Oleh karena itu jangan terkejut, apalagi shock. Jika mendapati mereka yang selama ini tak pernah sudi berinteraksi denganmu, tiba-tiba ramah tamah sekali.

Secara intesif mereka akan mulai rajin mengomentari status di medsosmu. Minimal beri "like" atau bahkan "love". Di dunia nyata, mereka juga akan tersenyum lebar. Menyapamu dan bahkan mentraktirmu ngopi.

Berharap kamu akan simpati. Lalu mengajak serta anak istri, orangtua, mertua, para saudara, sahabat karib dan juga para tetangga. Kemudian meminta janji, agar kalian akan memilihnya lagi.

Sebenarnya, ini adalah cara berpolitik konvensional yang sudah basi. Dalam bahasa lokal diperibahasakan "cempedak dalam periuk - ade kendak baru ndak iluk". 

Politisi seperti ini diragukan kemampuannya, kredibilitas dan kompetensi dalam mengemban amanah rakyat sebagai anggota parlemen: menjalankan fungsi legislasi, budgeting dan controlling.

Mestinya, menjadi politisi tak boleh intropert. Harus membuka diri. Siap berinteraksi kapan pun - dimana pun. Tak alergi dikritisi. Serta aspiratif dalam memperjuangkan suara rakyat.

Tapi ya, itu kan teorinya? Betul, prinsip dagang telah membuat dinamika politik kita begitu kotor. Ada uang ada suara. Akibatnya, orang yang menjadi legislator haruslah orang kaya. Punya modal. 

Setelah jadi, mereka pun berlomba mengembalikan modal dan berebut cari untung. Bodoh amat dengan rakyat! Maen proyek sah-sah saja. Meski regulasi jelas melarangnya.

Fungsi legislasi tak signifikan. Padahal inilah tolak ukur kesuksesan kerja DPRD. Fungsi budgeting acak-adul. Banyak kasus soal anggaran daerah mencuat dan bermasalah. Fungsi pengawasan apalagi. Sekwan di depan mata saja, sanggup "mudike".

Jadi harus darimana memulainya? Jangan beri suara politisi "piakak" (culas). Hindari sogokan beli suara. Beri kesempatan kandidat yang jelas dan meyakinkan kredibilitas serta kualitasnya. Semoga ke depan PALI dapat lebih baik lagi.**

 

Penulis : J.Sadewo,S.H.,M.H.(Wartawan, Advokat, & Pengamat Politik Lokal)

BERITA TERKAIT

Aksi Bakar Balas Dendam : "Nasi pun Sudah Menjadi Bubur"

09 Juli 2026 653

Dua hari terakhir, Bumi Serepat Serasan dibuat geger oleh insiden pembakaran [...]

Pimpinan Ponpes Modern Ar-Rozi Apresiasi Kehadiran Wagub Sumsel Cik Ujang di Harlah ke-22

09 Juli 2026 478

PALI [kabarpali.com] – Pimpinan Pondok Pesantren Modern Ar-Rozi [...]

HUT ke-13 Kabupaten PALI, Mendorong Akselerasi Pembangunan

18 April 2026 936

Dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-13 Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir yang [...]

close button