Demokrasi di Ujung Jari: Antara Kritik, Emosi, dan Kekuasaan

Oleh Redaksi KABARPALI | 09 Januari 2026


 Opini oleh : J. Sadewo,S.H.,M.H.*)

Perubahan peradaban adalah keniscayaan. Bersamaan dengan itu, situasi sosial dan budaya masyarakat pun terus bergeser secara signifikan. Salah satu dampak paling nyata dari perkembangan teknologi yang melaju pesat adalah perubahan perangai manusia: cara berpikir, bersikap, merespons, hingga bereaksi terhadap realitas sosial dan kebijakan publik.

Dalam dinamika bernegara hari ini, relasi antara penguasa dan rakyat mengalami perubahan mendasar. Respon publik terhadap kebijakan, termasuk gejolak yang kerap muncul, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati. Kepentingan politik—baik jangka pendek maupun jangka panjang—tak lagi bisa disembunyikan atau ditampilkan secara vulgar seperti masa lalu. Sekat-sekat yang dulu menjaga jarak antara ruang rahasia kekuasaan dan rakyat yang terdampak kini kian menipis, bahkan nyaris lenyap.

Kemajuan teknologi informasi menjadi faktor utama perubahan itu. Rakyat kini memiliki banyak saluran untuk mengawasi, merespons, bahkan mengoreksi kebijakan publik. Akses pengetahuan semakin terbuka, kesadaran kritis tumbuh, dan partisipasi publik menguat. Dalam konteks ini, pola kebijakan yang bersifat memaksa—seperti pada era Orde Baru, di mana rakyat hanya diberi pilihan “suka atau tidak suka harus menerima”—jelas sudah tidak relevan lagi.

Tak mengherankan bila publik menjadi rentan melakukan perlawanan ketika kebijakan yang digulirkan penguasa dinilai tidak masuk akal, tidak adil, atau tidak membawa manfaat nyata. Penolakan sering kali lahir bukan semata karena sikap anti-pemerintah, melainkan karena kebijakan tersebut gagal menjawab kebutuhan dan realitas hidup masyarakat.

Di sisi lain, pergeseran sosial, budaya, dan ekonomi yang cenderung labil turut membentuk masyarakat yang semakin sensitif. Tekanan hidup, ketimpangan, serta arus informasi yang deras kerap melahirkan emosi kolektif yang mudah meledak, histeria sosial, dan kerapuhan dalam kepribadian publik. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan kehidupan berbangsa.

Karena itu, penguasa dituntut untuk lebih bijak, terbuka, dan partisipatif dalam merumuskan kebijakan. Dialog, transparansi, serta keberanian mengakui kekeliruan harus menjadi fondasi kepemimpinan di era digital. Kebijakan yang lahir dari empati dan data, bukan sekadar kepentingan politik, akan lebih mudah diterima dan dijaga bersama.

Sementara itu, masyarakat juga perlu menguatkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Kritik harus tetap rasional, berbasis fakta, dan tidak terjebak pada amarah sesaat atau manipulasi informasi. Literasi digital, kemampuan menyaring informasi, serta sikap saling menghormati menjadi kunci agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi kekacauan sosial.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan jurang, antara penguasa dan rakyat. Jika keduanya mampu menempatkan diri secara proporsional, perubahan peradaban justru bisa menjadi peluang untuk membangun kehidupan bernegara yang lebih adil, sehat, dan beradab.**

Penulis adalah Ketua PWI PALI, Advokat dan Pengamat Kebijakan Publik.

BERITA LAINNYA

101448 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

77852 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

38698 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

24994 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

22960 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

 Opini oleh : J. Sadewo,S.H.,M.H.*)

Perubahan peradaban adalah keniscayaan. Bersamaan dengan itu, situasi sosial dan budaya masyarakat pun terus bergeser secara signifikan. Salah satu dampak paling nyata dari perkembangan teknologi yang melaju pesat adalah perubahan perangai manusia: cara berpikir, bersikap, merespons, hingga bereaksi terhadap realitas sosial dan kebijakan publik.

Dalam dinamika bernegara hari ini, relasi antara penguasa dan rakyat mengalami perubahan mendasar. Respon publik terhadap kebijakan, termasuk gejolak yang kerap muncul, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati. Kepentingan politik—baik jangka pendek maupun jangka panjang—tak lagi bisa disembunyikan atau ditampilkan secara vulgar seperti masa lalu. Sekat-sekat yang dulu menjaga jarak antara ruang rahasia kekuasaan dan rakyat yang terdampak kini kian menipis, bahkan nyaris lenyap.

Kemajuan teknologi informasi menjadi faktor utama perubahan itu. Rakyat kini memiliki banyak saluran untuk mengawasi, merespons, bahkan mengoreksi kebijakan publik. Akses pengetahuan semakin terbuka, kesadaran kritis tumbuh, dan partisipasi publik menguat. Dalam konteks ini, pola kebijakan yang bersifat memaksa—seperti pada era Orde Baru, di mana rakyat hanya diberi pilihan “suka atau tidak suka harus menerima”—jelas sudah tidak relevan lagi.

Tak mengherankan bila publik menjadi rentan melakukan perlawanan ketika kebijakan yang digulirkan penguasa dinilai tidak masuk akal, tidak adil, atau tidak membawa manfaat nyata. Penolakan sering kali lahir bukan semata karena sikap anti-pemerintah, melainkan karena kebijakan tersebut gagal menjawab kebutuhan dan realitas hidup masyarakat.

Di sisi lain, pergeseran sosial, budaya, dan ekonomi yang cenderung labil turut membentuk masyarakat yang semakin sensitif. Tekanan hidup, ketimpangan, serta arus informasi yang deras kerap melahirkan emosi kolektif yang mudah meledak, histeria sosial, dan kerapuhan dalam kepribadian publik. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan kehidupan berbangsa.

Karena itu, penguasa dituntut untuk lebih bijak, terbuka, dan partisipatif dalam merumuskan kebijakan. Dialog, transparansi, serta keberanian mengakui kekeliruan harus menjadi fondasi kepemimpinan di era digital. Kebijakan yang lahir dari empati dan data, bukan sekadar kepentingan politik, akan lebih mudah diterima dan dijaga bersama.

Sementara itu, masyarakat juga perlu menguatkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Kritik harus tetap rasional, berbasis fakta, dan tidak terjebak pada amarah sesaat atau manipulasi informasi. Literasi digital, kemampuan menyaring informasi, serta sikap saling menghormati menjadi kunci agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi kekacauan sosial.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan jurang, antara penguasa dan rakyat. Jika keduanya mampu menempatkan diri secara proporsional, perubahan peradaban justru bisa menjadi peluang untuk membangun kehidupan bernegara yang lebih adil, sehat, dan beradab.**

Penulis adalah Ketua PWI PALI, Advokat dan Pengamat Kebijakan Publik.

BERITA TERKAIT

Maling Sapi Profesional Beraksi di PALI, Satu Ekor Disembelih Tengah Hari

14 Januari 2026 453

PALI [kabarpali.com] - Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kembali [...]

Lima Warga PALI Dikirim Ikuti Program PPSDM Migas 2026

12 Januari 2026 293

PALI [kabarpali.com] - Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas [...]

Kadis PUTR PALI Klarifikasi Anggaran MCK: IPAL Komunal Sudah Ada di APBD 2025, Dialihkan Agar Lebih Bermanfaat

11 Januari 2026 332

PALI [kabarpali.com] — Polemik anggaran pembangunan MCK yang belakangan [...]

close button