Bertani Organik di Ladang Migas, Sutarni Menanam Harapan dan Kemandirian
PALI [kabarpali.com] – Di tengah kawasan migas legendaris Pendopo, Kabupaten PALI, Provinsi Sumatera Selatan, hamparan sawah hijau membentang tenang di antara denyut industri energi negeri. Dari lahan inilah, Sutarni (54) bersama belasan perempuan tani Kelompok Wanita Tani (KWT) ROSELA, menanam lebih dari sekadar padi dan sayur organik. Mereka menumbuhkan harapan, kemandirian, dan masa depan baru, setelah pernah terpuruk akibat gagal panen, lilitan utang pupuk, hingga kesulitan membiayai sekolah anak. Kini, dari tangan-tangan perempuan itu, pertanian organik menjelma menjadi jalan perubahan hidup, di jantung kota minyak PALI.
***

Seorang perempuan setengah abad, bernama Sutarni, nampak bergesa memacu langkahnya. Dari galangan sawah nun di sana, samar-samar, senyum sumringah ibu beranak dua itu sudah mengembang menyapa kami. Ia baru saja diberi tahu Erwinton Simatupang, Community Development Officer (CDO) PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Pendopo Field, tentang kedatangan kami –para jurnalis— yang hendak meliput aktivitasnya bertani organik, bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mereka beri nama ROSELA.
Hari itu, Selasa (19/5/2026), langit nampak cerah. Awan berarak biru. Angin berhembus sepoi-sepoi membelai pucuk padi yang hijau, mulai berisi. Di sebuah pondok tepi sawah, kami berkumpul. Menunggu Ibu Sutarni dan Erwinton tiba. Bersama tiga sejawat awak media, kami cukup terkesima. Rasa tak menyangka, bentangan sawah yang sejuk membentang itu, berada di tengah ibukota PALI. Di kawasan Komplek Pertamina Pendopo, yang legendaris sebagai simbol industri hulu migas, pernah jaya dan tenar seantero dunia, sebagai lumbung penghasil minyak dan gas bumi yang berlimpah.
Hingga kini, PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Pendopo Field masih terus berproduksi, sebagai bagian dari ketahanan energi negeri. Menyumbang pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas yang menggerakan roda ekonomi masyarakat Indonesia. Di sisi lain, menggeliatkan pemberdayaan warga sekitar perusahaan, mewujudkan kesejahteraan keluarga, sebagai multyflier effect (efek berganda) hulu migas.
Mengenakan celana jeans biru, baju hitam bermotif bunga, dan hijab coklat muda, Ibu Sutarni terlihat fresh dan lebih muda dari usianya. Ia menyalami kami satu persatu. Di jinjingnya beberapa kemasan produk hasil olahan KWT Rosela: Kopi Rimbang, Sejelai Manis dan Kunyit Instan. Selain itu ada juga beras organik varietas Mentik Susu, kemasan 5 kg. Ia nampak bangga dan bahagia.
“Awalnya, kami bertani organik dimulai dari membantu suami, Joni Endro, yang merupakan Ketua Kelompok Tani Rejomulyo. Kelompok yang sudah lebih dulu terbentuk. Dari sini, Saya mulai berpartisipasi lebih banyak, untuk turut mengelola pertanian organik. Termasuk mengajak serta 19 ibu-ibu rumah tangga lainnya, dan mendirikan KWT Rosela,” antusiasnya, mulai berkisah.
Perempuan lulusan SMP itu masih mengingat dengan jelas, masa ketika dulu bertani lebih sering menghadirkan kegagalan daripada hasil yang mumpuni. Tanaman padi mereka rusak pada 2016 diserang jamur, karena penggunaan pupuk kimia berlebih. Dua tahun berselang, serangan ulat Grayak kembali menggagalkan panen. Secara bersamaan, beban hidup keluarga semakin berat.
“Untuk membeli pupuk, kami harus meminjam ke toko. Tagihan listrik rumah sempat tertunggak dan biaya sekolah anak di SMA tertunda hingga enam bulan,” tatapan matanya menerawang. Mengenang kisah pilu dahulu.

Sebelum beralih ke pertanian organik, dengan sistem pertanian konvensional, hasil panen tidak stabil. Benih sekitar 100 kilogram per hektar ditanam tanpa jarak teratur dengan varietas Mekongga, Ciherang, dan Inpari. Air harus selalu tersedia, pupuk kimia menjadi andalan, dan hama diatasi dengan pestisida. Hasilnya, hanya sekitar 3,6 ton hingga 4 ton gabah per hektar atau sekitar 2,5 ton hingga 3 ton beras dengan harga Rp10 ribu per kilogram. Tekstur beras cenderung keras dan biaya produksi terus menekan petani.
“Perubahan mulai hadir pada 2021, ketika PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Pendopo Field menawarkan pembinaan melalui program Community Involvement and Development (CID), melalui Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA), di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Pendopo Field,” imbuh perempuan bertahi lalat itu, tersenyum.
Dalam realisasi program itu, Pendopo Field menyediakan sekretariat bagi Kelompok Tani Rejomulyo dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela. Fasilitas ini berupa bangunan yang menjadi pusat aktivitas bersama.
“Di samping itu, kami juga mendapatkan serangkaian alat pertanian dan pelatihan. Dukungan ini membuat petani lelaki dan petani perempuan seperti kami ini, semakin percaya diri. Seiring berjalannya waktu, Saya dan suami, serta petani lain beralih ke pertanian organik.”
Sebagai gambaran, tanah dipulihkan dengan pupuk dari jerami dan kotoran hewan. Bibit ditanam satu per satu dengan jarak 30 x 30 sentimeter menggunakan Caplak. Kebutuhan benih turun drastis dari 100 kilogram menjadi sekitar 5 kilogram per hektar. Cara ini membuat kerja lebih teratur. Petani juga memiliki ruang lebih untuk memahami proses tanam secara mandiri.
Perubahan juga terjadi pada pola perawatan. Sawah tidak lagi digenangi air terus menerus, tetapi diatur sesuai kebutuhan tanaman. Hama dikendalikan dengan bahan alami seperti asap batok kelapa serta larutan susu, telur, dan madu. Petani tidak lagi bergantung penuh pada sistem lama yang mahal dan merugikan. Sebaliknya, mereka membangun pengetahuan sendiri dari pengalaman dan lingkungan sekitar.
“Perubahan paling terasa juga terjadi pada hasil panen. Jenis padi yang dulu didominasi Mekongga, Ciherang, dan Inpari kini berganti dengan varietas Pandan Wangi, Mentik Susu, Beras Merah, dan Beras Hitam yang lebih wangi dan lembut. Dulu, hasil panen hanya berkisar 3,6 hingga 4 ton gabah per hektar atau sekitar 2,5 hingga 3 ton beras per hektar, dengan harga jual Rp10 ribu per kilogram. Sekarang, hasil panen dapat mencapai 5,6 hingga 6 ton gabah per hektar atau sekitar 4 hingga 4,5 ton beras per hektar, dengan harga jual Rp20 ribu per kilogram,” Sutarni melirik Erwinton --perwakilan Pendopo Field-- penuh syukur.
Ditambahkan ibu rumah tangga yang bermukim di Rejosari, Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi itu, pada 2024, ia menginisiasi KWT Rosela. Melalui kelompok ini, mereka tidak hanya bertani, melainkan juga membangun ruang belajar bagi perempuan. Saat ini terdapat 20 anggota yang mengelola lahan setengah hektare di PPMP. Mereka menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Yakni Jahe, Kunyit, Kencur, Bawang Dayak, Pegagan, Kumis Kucing, Sambiloto dan berbagai sayuran.
“Hasilnya diolah menjadi produk seperti Teh Rosela, Bandrek, Peyek, dan Stik Ubi. Sejauh ini, kelompok kami bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp2 juta per bulan,” Sutarni menunjukkan beberapa kemasan olahan kelompoknya, sebagai sampel produk mereka.

Erwinton Simatupang, CDO PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Pendopo Field, yang sedari tadi menyimak, turut menimpali. Menurutnya, kehadiran kelompok binaan Pendopo Field ini menjadi bentuk nyata semangat Pertamina untuk memberikan efek berganda industri hulu migas bagi negara. Pada titik ini, masyarakat di wilayah operasional perusahaan bisa membangun solidaritas, berbagi pengetahuan, dan menciptakan ruang tumbuh bersama bagi warga lain.
“Lahan seluas 15 hektar yang disediakan Pendopo Field dikelola oleh 25 petani. Rata-rata kepemilikan lahan sekitar 0,6 hektar per petani. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani yang sebelumnya sekitar Rp2,5 juta per bulan kini dapat mencapai sekitar Rp8 juta per bulan. Dari sisi pemasaran, beras tidak mengalami kesulitan berarti, karena merupakan kebutuhan pokok. Meskipun harga lebih tinggi, masyarakat tetap membeli karena lebih enak dan lebih sehat. Pemasaran dilakukan melalui mulut ke mulut dan penjualan online,” papar pria yang telah bekerja di Pendopo Field, sejak 2003 ini.
Upaya Sutarni bersama kelompoknya, juga berkembang menjadi kegiatan edukasi bagi masyarakat termasuk anak-anak sekolah. Mereka datang langsung ke lahan untuk belajar menanam dan mengenal tanaman obat keluarga. Dari sini tumbuh kesadaran, bahwa pengetahuan tidak harus selalu berada di ruang kelas.
Kini, sawah yang dulu tak cukup menjadi sumber ekonomi keluarga, berubah menjadi ruang kemandirian. Dari Kelurahan Talang Ubi Utara, di pusat ibukota PALI, semangat sustainability tidak hanya digaungkan. Lebih dari itu, semangat ini dijalankan sebagai cara hidup, belajar tanpa henti, berani mengambil keputusan, dan membangun masa depan dari tanah yang mereka kelola sendiri.
Sutarni menyalami kami. Berpamitan dan berterima kasih. Sembari tak henti mengucap syukur pada Illahi. Dari senyum dan bahasa tubuhnya, ada rasa tabik pada dedikasi PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Pendopo Field, dalam menjaga ketahanan energi. Dalam memberikan dampak berganda dan manfaat nyata bagi keluarganya dan negara.
Angin masih bertiup syahdu. Dedaunan menari-nari. Lamat-lamat terdengar suara kaleng bekas yang dirangkai dan ditarik petani menggunakan tali, burung pemakan padi pun bergegas terbang lalu pergi. Lestari alamku, bestari negriku.*[Joko Sadewo]










